Tahu-tahu Tahu, Tahu-Tahu Enggak Tahu
9/17/2011 03:34:00 PM
Manusia tidak pernah tahu
apa-apa tentang Tuhan. Tidak akan pernah. Dan agama, kadang kupikir, hanya
sebuah hasil usaha manusia untuk menggapai rasa aman, meski pada akhirnya,
institusi bersama doktrinnya hanya membahayakan.
Kita memang tidak tahu
apa-apa tentang Tuhan. Saya ingat Bhagavad pernah bertanya, “Siapa Tuhanmu?”,
yang membuat saya akhirnya harus menjawab “Saya tidak tahu apa-apa tentang
siapa Tuhan saya.” Mungkin saya yang terlalu jauh, namun pertanyaan Bhaga malah
membawa saya pada kecurigaan bahwa ia hanya ingin membawa saya pada kontemplasi
bahwa kita membutuhkan agama (Sebagai ajaran) untuk memberi pengetahuan tentang
siapa Tuhan yang kita percaya. Semisalnya dalam Kristen, kita bisa menjawab
pertanyaan siapa Tuhanmu dengan sangat
mudah: Tuhan saya (kondisikan saya seorang Kristiani) adalah yang menjelma
menjadi manusia dilahirkan oleh perawan Maria, menderita sengsara dan wafat
dalam pemerintahan Ponsius Pilatus, disalibkan, wafat dan dimakamkan di sebuah
kubur batu, bangkit pada hari ketiga, dan seterusnya dan lain-lainnya (yang
terhapal mati di kepala lewat Syahadat Iman singkat yang saya lafalkan setiap
misa mingguan di gereja) dengan segenap kisah-kisah yang Kristus lakukan yang
tergambar dalam Perjanjian Baru. Atau semisalnya dalam Islam dan Yahudi, yang
Tuhannya juga sama-sama Allah Yahwe yang sama, yang pernah mengutus Musa,
menjadikannya mampu membelah laut Merah dan seterusnya dan seterusnya. Namun
ketika diposisikan suatu bentuk kepercayaan akan Tuhan tanpa kepemilikan agama,
Teisme, misalnya, saya akan menjadi sangat buta tentang siapa Tuhan saya. Saya
tidak tahu apa-apa. Sekedar tahu bahwa Tuhan itu ada, Tuhan itu bekerja, namun
bekerja yang secara spesifik seperti apa dan bagaimana pengaturan garis hidup
seseorang sesuai tingkah lakunya, saya tidak tahu apa-apa karena toh saya
sendiri sebenarnya cenderung lebih antroposentris. Pemikiran ini terlalu jauh,
memang. Memang benar kata si Arkan, “Si Bhaga cuma nanya Tuhan lu siapa, kok
dialektika lu sampe ke situ?” Kejauhan.
Tapi seperti biasa, karena
pertanyaan sudah terlanjut tanggung untuk disimpan saja, maka saya lanjutkan
saja pada pertanyaan tentang seberapa penting kita mengetahui siapa Tuhan. Sebagai
bentuk pedoman kebermoralan kitakah? Bukankah justru sekarang banyak sekali
rentetan hukum moral dan etika dalam kitab suci yang sekiranya sudah tak lagi
relevan dengan masa kini, sehingga pada akhirnya pun, kita sendiri sebagai
manusia yang harus memilah lagi dengan akal dan budi, dengan kesadaraan dan
hati nurani? (Dan akan menjadi pembahasaan yang beda lagi perihal otoritas Tuhan
dan keotentikannya dalam kitab suci). Sebagai bentuk pernyataan relasi yang
dekat sebagai sebuah hakikatkah, antara Pencipta dengan Makhluk Ciptaan? Apa
esensinya? Lalu ujung-ujungnya saya berkacamata eksistensialisme lagi, bahwa
pertanyaan tentang Siapa itu seharusnya hanya bisa (dan hanya sepatutnya) dijawab
oleh masing-masing orang sebagai penggambaran pengalamannya bersama Tuhan yang dia percayai; sebagai sesuatu yang
tidak akan tepat jika dibahasakan agar bisa dipahami oleh orang lain, kecuali
mereka telah melewati pengalaman itu sendiri. Ya, eksistensial. Pertanyaan
siapa Tuhan silahkan dijawabnya dalam hati saja. (Memang untuk yang ini saya sangat
berhaluan Kierkegaard.)
Kadangkala saya sendiri
merasa bahwa saya tidak akan pernah peduli Tuhan benar ada secara materiil atau
tidak: saya tidak pernah tertarik pada perdebatan ada dan tidak adanya Tuhan,
sekeren apapun perdebatannya. Mungkin saja hanya karena saya tidak akan bisa
terima kalau Tuhan benar-benar tidak ada. Sesuatu di dalam diri saya meyakini
bahwa Tuhan ada – atau seharusnya
ada. Saya tidak akan bisa apa-apa jika tidak ada Tuhan – demikian saya percaya.
Mungkin saja ini yang disebut oleh Freud sebagai ilusi infantil.
Freud bertolak dari fungsi agama. Agama membuat manusia percaya akan adanya dewa-dewa. Dewa-dewa itu berfungsi “mengatasi ancaman-ancaman alam, membuat orang menerima kekejaman nasibnya dan menjanjikan ganjaran atas penderitaan dan frustasi yang dituntut dari manusia” [dikutip dari Casper 65]. Jadi melalui agama, manusia mau melindungi diri terhadap segala macam ancaman dan penderitaan. Namun perlindungan itu sebuah ilusi. Dewa-dewa buukannya sungguh-sungguh melindungi manusia, melainkan hanya diinginkan agar melindunginya. Dan itulah yang disebut ilusi: Keyakinan bahwa suatu harapan akan terpenuhi, bukan karena kenyataan mendukung harapan itu, melainkan karena orang menginginkannya.
[Franz Magnis Suseno. Menalar Tuhan, Kanisius, Yogyajakarta, 2009. Hlm. 87]
Lalu sudah. Demikian saja.
Proses pencariannya sejauh ini sampai di sini. Mau dibahas dengan kawan yang
mempertanyakan pun saya akan repot harus mulai darimana, dan harus berhenti
dimana. Kayak si Arkan, tahu-tahu nanya, “Gimana perkembangan eksistensi Tuhan?”
Memang random nanyanya, tapi begitu ditanya kenapa, dia bilang, “Habis kayaknya
gitu-gitu aja.”
Iya, gitu-gitu aja. Mau
nyari apaan lagi sih kita? Enggak aka nada filsafat dan pemahaman yang bisa
menyeluruh mengenai Tuhan, karena Tuhan itu berada di luar dimensi manusia.
Enggak bisa dipahami.
Nah, hari kamis kemarin
akhirnya kesampean ikut seminar filsafat di depok. Temanya kematian sang desainer semesta. Tidak merasakan sesuatu yang
baru untuk diserap dan dijadikan pertimbangan. Yang ada hanya sebuah kesadaran
saja bahwa sebenarnya yang para pembicara lakukan, termasuk kita sebagai
manusia juga lakukan, hanya sekedar
penyombongan pengetahuan masing-masing saja, Tuhan hanya pemanis. Seperti
para tukang kue yang meributkan tentang esensi susu di dalam kue-nya:
masing-masing hanya akan mempertahankan argumentasinya masing-masing, sesuai
dengan kepercayaan dan pengetahuannya masing-masing (yang tentu akan berbeda
satu dan lainnya) tentang esensial dan tidaknya peran susu di dalam kue,
penjabaran peran susu di dalam kue dalam pengkondisian-pengkondisian tertentu,
pendekatan-pendekatan penggambaran mengenai apa itu susu dan mengapa harus ada
susu dan mengapa tidak perlu ada susu; tapi tak pernah lebih dari itu. bukan si
susu yang akhirnya akan diagungkan si tukang kue jika argumentasinya dibenarkan,
melainkan pengetahuan yang dia
milikilah yang menjadi ‘pemenang’, yang merujuk pada tingkat kecerdasan si tukang kue itu sendiri sebagai individu
yang argumentasinya paling bisa diterima, yang menjadikan dia seolah lebih maju
dari yang argumentasinya kurang bisa diterima.
Namun susu bagi mereka
tetap hanya susu. Tidak lebih dari itu.
Dan agama seolah hanya
berupa hasil ciptaan agar manusia setidaknya punya sesuatu yang ia tahu tentang
Tuhan. Seorang penganut agama tertentu akan bisa menyebut dengan yakin, “Saya
tahu siapa Tuhan saya. Ajukan pertanyaan tentang Tuhan dan saya akan beritahu
siapa Dia.” yang “siapa” di sini merujuk pada apa yang bisa ia gali di dalam
kitab suci sebagai sumber kebenaran tentang Tuhan secara personal. Apa yang
disampaikan di dalam kitab suci menjadi suatu range untuk menilai “tahu” dan “tidak
tahu”. Di sanalah, agama berpotensi menjadi sesuatu yang berbahaya: memutlakkan
suatu kebenaran yang tidak utuh sebagai kebenaran yang menyeluruh. Maka dari
itu, dogma dan doktrin menjadi sesuatu yang sangat esensial dalam agama. Saya
tidak sedang mempersalahkan agama dan orang yang menaruh harapan pada agama,
karena saya tidak sedang menempatkan diri sebagai oposisi karena saya sendiri
pun masih rutin setiap Minggu ikut misa pagi di gereja dan berdoa. Bisa merujuk
juga pada sains, misalnya. Atau pendekatan-pendekatan lain untuk menyampaikan
suatu penge-tahu-an tentang Tuhan yang dimiliki oleh individu-individu
tertentu. Seperti di seminar kemarin. Masing-masing melihat dari kacamata
masing-masing, mempertahankan argumen masing-masing. Lalu absurd. Yang sekarang
kita pikir tahu hanya sebagian. Tapi kita asyik saja menyombongkan diri dengan
yang sebagian. Mengutip @revolutia siang tadi, “How can you say the truths you
believe at this moment are the real truths unless you already know everything?”
Tuhan adalah penggambaran bagi Yang Maha Besar, yang menjawab segala yang tak terjawab. Saya menyebut Tuhan
sebagai sesuatu yang luar biasa di jagat raya ini yang tidak bisa dijelaskan. Ya,
sebutlah kalau Aristoteles bilangnya “penggerak yang tak tergerakkan”, atau
penjabaran apapun tentang Tuhan sebagaimana yang kau percayai. Tidak ada
kebenaran yang menyeluruh. Fanatisme agama, sains, dan pendekatan lain untuk
membuktikan Tuhan (ada ataupun tidak ada) hanya sedang menyempitkan dan
mengkerdilkan Tuhan itu sendiri, selagi para manusianya asyik membesarkan
dirinya sendiri.
Biarkan saja Tuhan
sebagaimana adanya, kata Arkan. Adanya yang bagaimana? Adanya yang kita
percaya, namun tidak akan bisa kita pahami secara menyeluruh, hemat saya, tapi bukan berarti harus berhenti mencari. Pencarian akan kebenaran, kan, yang memberikan nafas kesegaran dan penghidupan? Dan bagi saya, lebih baik dilakukan secara personal saja, tapi implementasi nilai-nilai kebaikannyalah yang diterapkan ke semua orang. Ah, tapi, ya sudahlah. Kalau tidak congkak bukan manusia namanya, katanya? Kan bukan Tuhan. :P
1 comments
2 tahun lalu mencari, Menemukan.
ReplyDelete1 tahun lalu menjalani, tapi tak terpenuhkan.
31 desember kemarin tercerahkan.
;)