cuplikan
7/14/2010 07:23:00 PM
aku masih duduk di atas mesin yang sama,
masih dengan aroma besi karat yang tersaru dengan pilu kerja keras yang menyerbak;
dengan semburan angin penyambut malam pinggiran ibu kota yang menampar-nampar dari bilik jendela yang juga masih tetap sama usangnya.
dan masih dalam kejenuhan ini mata kita bertemu,
dengan didahului basa-basi kesopanan yang kemudian tetap diikuti kombinasi-kombinasi nada yang masih saja sumbang.
"kita hanya perlu kepedulian", ujarmu.
saya juga hanya butuh kepedulian bos gendut yang tak tahu berterima kasih untuk sekedar menaikkan gaji, anak istriku butuh makan, balon kata menggembung dari kepala si bapak berkemeja biru langit yang kontras dengan wajahnya yang kuyu.
dan kamu masih terus bernyanyi, tenggelam dalam alunan kreasimu sendiri,
melantunkan sindiran yang harusnya kita sama-sama dendangkan di gedung yang miring itu (sekedar meyakinkan saja peghuninya memang tak miring akal atau miring moral sebagai pengabdi)
"dan bapak ibu ya," kawanmu menimpali, menyelingi patahan-patahan syairmu yang juga didengungkan oleh jutaan mulut lain yang belum mampu diasupi gizi, "hidup ini roda yang berputar, kita akan ada di atas dan di bawah, jadi berbagilah."
ketika lampu lalu lintas mendadak berpijar hijau, aku bertepuk tangan, meski dalam keheningan, menyahuti kecerdasanmu berbicara.
mungkin kamu bisa jadi pengacara, jika sirkumtansi mengajakmu bergaul dengan wanginya buku-buku tebal sebagaimana aku menghabiskan sebagian besar hidupku.
atau mungkin bergabung dengan para revolusionis, mengingkari minimnya posisimu dibanding mereka yang ber-kantong besar.
sampah busuk pandai bicara,jadi begitu bandarmu mendidik gerombolan kalian, penghuni jalanan tak berpendidikan yang kumuh dan bau, yang hanya bisa menyindir orang kaya; busuk yang manis, ya, mulut kalian, tak lain dengan mulut mantan kekasihku, wanita muda bercelana jeans ketat dengan blouse tipis garis-garis mendengus dengan matanya nanar, menelanjangi pandangan jalanan yang bergeser cepat dengan sendu-sendu masa lalu yang ikut tertumpah namun enggan ikut berlalu.
aku mengikuti pandangmu yang menerjangi kami satu persatu, yang dengan kekosongannya, sebenarnya merajami aku dengan batu-batu besar ketidakacuhan.
aku berpaling, mengisi mata dengan tampilan bawah jembatan yang memajang urbanisasi dengan ironi,
mulai tersisipi titik-titik lampu jalanan.lalu
hujan gerimis.
mungkin malam akan menjadi manis.
lalu aku melihat wajah-wajah asing yang mengesampingkan keletihan karena ketidakadilan, turut menghujani aspal tepi Jakarta dengan mata mereka,
berkelakar di dalam hati tentang dunia yang menggembirakan,
tentang anak-anaknya yang menggemaskan berlari dalam nyanyian,
menampikkan hari-hari mereka yang terlalu meletihkan.
yang menanggung jawaban atas cerita mereka, mengisi speaker televisi kuno di petak-petak beratap, menghiasi kepala mereka dengan dendang-dendang janji murahan.
"mbak,"
katamu menyentakku.
koinku berdenting di topimu yang menengadah, diikuti hatiku yang menengadah, mengamini ujar-ujar doa mu, terima kasihmu.
dan ketika itu kutangkap matamu,
mengerling lalu mengetaskan senyum nakal pada bapak berkemeja rapi di bangku sebelah.
lalu resah aku bertanya-tanya tentang kawanmu yang lainnya,
berapa harga yang kauberi pada diri untuk mengejar nasi.
atau sekedar mengejar jati diri.
lalu hujan semakin deras.
kalian tertawa terkikih di pintu, bersiap melompat kembali ke jalanan.
matamu masih mengitari isi bus ini, mencari siapa yang mungkin mau menghabiskan malam ini denganmu.
mesin ini melaju malah semakin cepat,
kalian menunggu dengan mengumandang nyanyian untuk penumpang yang terakhir,
tentang realita dan caranya memperlakukan kalian,
dengan kata-kata yang itu-itu saja,
dengan pendengar yang masih sama;aku yang masih mengacuhkan,
bermimpi tentang keadilan namun untuk bergerak terlalu enggan.
kalian masih menghidupi diri dengan moral yang sama,
dengan nyanyian yang tetap sama,
di malam yang sama membosankannya.
0 comments