­

merupa perjalanan, merupa kesegaran

5/24/2013 08:24:00 PM

-


"Berawal dari kisah perjalanan yang tentunya bukan program dari jurusan,"
ungkap pengantar singkat yang terpampang begitu memasuki ruang galeri,
"Tapi dari tindakan (nakal) kami terhadap sistem yang gak diprogram
untuk membuat program pembelajaran dari 'jalan-jalan'.
Karenanya sebetulnya, dari 'jalan-jalan', ada pengetahuan yang lebih berharga."

*
Bayangin habis lari berkilo-kilo meter di hari yang terik, kerongkongan kerontang kayak habis disetrika, enggak bawa botol minum dan enggak ada tukang jual minuman yang mangkal dan lewat, terus tiba-tiba ada yang kasih satu gelas es teh manis gratis (yang kalo dimasukin ke TVC, bulir-bulirnya berkilau menggoda di permukaan gelas). Rasanya persis gitu. Segernya bukan sebagai sebuah kondisi fisikal tertentu, tapi sekaligus sebagai sebuah fase batin. Agak lebay tapi ini jujur. Selepas bimbingan TA hari Kamis 23 Mei kemarin, saya meluangkan waktu untuk mampir ke Galeri Gedung R.
Rasanya seger luar dalem.

*

Kewajiban Menciptakan

Jika ada yang bertanya, hal yang paling menyenangkan dari sekolah desain, saya jawab: menciptakan karya. Jika ada yang bertanya, hal yang paling saya benci dari sekolah desain, jawabannya juga: menciptakan karya. Apa yang lebih menjemukan daripada kewajiban dan keseragaman yang dikondisikan sebagai sebuah fase yang absolut? Ada satu cerita dari salah seorang teman yang bekerja di sebuah LSM yang melekat di kepala saya tentang seorang kawan aktivisnya, seorang Muslimah yang berjilbab. Berjilbab, dulu -sewaktu mengenakan jilbab bukan kewajiban di Aceh. Ketika mengenakan jilbab menjadi sebuah keharusan yang dipukulratakan ke semua perempuan Muslim di sana, kawan aktivisnya mencopot jilbabnya.
Hampir serupa meski tak sama, menciptakan karya yang merupakan salah satu jalan untuk menempuh pengalaman sekaligus perwujudan ekspresi spiritual, ia kehilangan esensi dasarnya ketika dilakukan. Mas Waditya di buku Sila ke-6 - Kreatif Sampai Mati-nya menulis bahwa sekolah membunuh kreativitas; salah satunya dengan menganaktirikan seni yang diletakkan di kasta terendah.
Jangan sangka sekolah desain jauh dari kemungkinan untuk juga turut membunuh kreativitas.

Menempuh pendidikan di sekolah desain membuat saya belajar begitu banyak hal yang menjadi dasar yang kuat bagi saya untuk mampu (capable dan reliable) membuat karya. Namun pada saat yang sama, selagi saya mendapatkan hak saya sebagai siswa, kewajiban yang harus saya penuhi untuk menciptakan karya (eufemisme untuk 'bikin tugas') akhirnya berakhir menjadi sebuah perulangan yang menjemukan: brief, begadang, dapet nilai, lalu brief lagi, begadang lagi, dapet nilai lagi, dst, dst. Salah satu imbasnya, kejenuhan yang secara laten terakumulasi menjadi sebuah kemuakan terhadap bidang studi itu sendiri. Membuat karya (bikin tugas) hanya menjadi sebuah kewajiban untuk dapat nilai A, kalau bisa berpotensi untuk punya nilai tertentu supaya diterima oleh industri, dan kalau bisa yang aman-aman aja; kalau mau macem-macem ya macem-macem yang baik-baik. Mengejutkan untuk (akhirnya) menemukan diri saya sendiri selama kurun waktu tertentu merasa muak dengan pekerjaan mendesain: selalu mencari pelarian menghabiskan waktu yang lebih menyenangkan batin, bikin tugas maunya nanti (tugasnya tetap saya buat sih, karena kuliah dengan dibiayai ibu bagi saya adalah tanggung jawab moral tersendiri), berkarya pun kalau bisa yang enggak berakhir pada pilihan nilai A/B/C/D/E.
*

Menjawabi Guyonan

Tadi itu saya, menjelang tahun terakhir di universitas. Dan tahun ketiga kuliah desain ini sepertinya menjadi salah satu titik puncak mempertanyakan kewajiban-kewajiban menciptakan yang menjemukan itu tadi. Salah satunya juga terjadi pada teman-teman satu tahun di bawah saya (angkatan 2010). Menjawabi guyonan seorang dosen, Pak Has namanya (Hastjarjo Boedi Wibowo - nulis ejaan namanya gak boleh salah!), para mahasiswa DKV dari kelas 06PDU akhirnya menginisiasi sebuah kegiatan jalan-jalan (atau pelarian?) untuk sedikit meredam kebosanan dari kehidupan studi yang isinya ngerjain tugas melulu. Fendy alias Jenggot Soekarja menyebut dalam opini yang ditulisnya di Titik Dua edisi #3 bahwa kelas lebih mirip sebuah stasiun tugas ketimbang laboratorium kreatif (baca lengkapnya di majalah Titik Dua, yes.)

'SEGER' menjadi nama yang mereka pilih bagi perjalanan yang dilakukan pada 15-17 Maret 2013 dengan mengambil rute ruang R1B - Bandung - Yogyakarta - Temanggung - hingga kembali ke gedung R. Setelah sempat dilangkahi oleh UTS, sebuah pameran di galeri Gedung R Kampus Syahdan pun digelar sebagai tujuan akhir dari perjalanan mereka. Berisikan 29 karya yang dibuat oleh sekitar 50-an mahasiswa 06PDU, Pameran SEGER yang dibuka pada 21 Mei 2013 ini menghadirkan interpretasi-interpretasi atas perjalanan menyegarkan mereka dalam bentuk karya visual yang merupakan hasil kerja individu dan kelompok. 

kantong-kantong teh warna warni yang mengisi langit-langit ruang galeri.
100 pengunjung pertama di hari pembukaan dapet es teh manis loh!
*

Ke-aku-an, Ke-desainer-an, dan Ke-segar-an

Saya terbiasa membawa ekspektasi tertentu setiap memasuki ruang yang disebut oleh penyelenggaranya sebagai 'ruang pameran'. Dan membawa ekspektasi ke dalam ruang pameran 'SEGER' sama sekali tidak mengecewakan. Pada pengantar pameran, para peserta sekaligus panitia jalan-jalan SEGER mengaku memperoleh begitu banyak hal baru: ilmu baru, sudut pandang baru, dan segala yang menyegarkan bagi para calon desainer ini. Rasanya sangat menyenangkan untuk mengakui bahwa 'kesegaran' yang mereka dapatkan selama perjalanan tidak rakus disimpan untuk diri mereka sendiri, melainkan dibagi pada para pengunjung pameran.

Sebagai mahasiswi desain yang lekat dengan keseharian tugas, akan sangat mudah untuk mengenali: 'pameran ini akademis (format yang serupa, aturan-aturan baku yang hampir seragam, dsj.) banget' atau tidak. Karya-karya yang dipamerkan dalam SEGER meruntuhkan stereotip cetek akan pameran desain yang dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa desain grafis (desain grafis, ya, bukan seni rupa) yang hanya bisa berkutat di format karya yang "itu-itu" lagi. Eksplorasi medium serta pesan dan makna menjadi khas yang signifikan dari karya-karya yang dipamerkan di SEGER ini dengan - tentu saja - berangkat dari prinsip-prinsip desain dasar yang diintegrasikan ke dalam karya visual yang menyegarkan. Setiap karya yang hadir menghadirkan kejutannya sendiri-sendiri selagi berkeliling ruang pameran. Nampak jelas bagaimana perjalanan SEGER mereka ternyata bukan hanya sekedar refreshing, melainkan menghadirkan juga sebuah kesegaran dalam mengeksplorasi penciptaan karyanya masing-masing.

Misalnya, kehadiran burung-burung warna-warni yang terbang keluar dari sangkarnya yang putih dan plain. Lewat No Boundaries ini, Cassandra E. dan Cindy T. menghadirkan interpretasi akan perjalanan SEGER sebagai sebuah proses untuk membebaskan diri dari batasan untuk berkarya. "Terkurung membuat kita tidak berani bereskplorasi dan tidak tahu betapa berwarnanya dunia luar." Hal ini mengingatkan saya pada sebuah percakapan dengan Pak Has semester lalu yang menyampaikan juga wacana soal jalan-jalan untuk 'melihat dunia luar'. Katanya, "Lama kelamaan, kalian cuma bisa jago kandang."
Perihal seeing something beyond ini juga mendasari penciptaan karya berjudul Black Box oleh Stevanus Kurniawan. Di atas meja pameran, sebuah kotak hitam yang ditutupi oleh kain gelap berwarna serupa mengajak kita untuk mengintip ke dalam lubang di tengah kotak. Bentuk-bentuk geometris dengan warna bright-nya menyapa dari balik lubang, membentuk kata: insight.

No Boundaries - Cassandra Etania & Cindy Tandil
Black Box -  Stevanus Kurniawan
Interpretasi terhadap perjalanan SEGER dan pengaruhnya pada keberkaryaan juga muncul dalam bentukan panca idera yang dihadirkan oleh Pradnya P. lewat Ekstasi Panca Indera. Mata, lidah, tangan, nampak muncul di kotak ungu yang menjadi poros si karya. Di antara indera-indera itu, beberapa kali muncul teks berbunyi ungkapan, "Ah.." sebagai bentuk kepuasan/ekstasi dari panca indera terkait pengkaryaan. Barangkali, seharafiah berekasi, "Ah.. segar!"
Ekstasi Panca Indera - Pradnya Paramita
Lain halnya dengan Kenny D. dan M. Fendy A. yang menghadirkan interpretasi SEGER dengan karya yang 'menyentil'. Dengan peniti-peniti kuning menyusun huruf per huruf menjadi kalimat di atas papan hitam, keduanya mengkritik hasrat 'main-main visual' dari para mahasiswa desain (atau bahkan pengajarnya?) yang seringkali tidak didasari oleh rasional karya yang kuat. "Inisiatif dulu baru dikemas dengan cantik. Kadang Kebalik," bunyinya.

Inisiatif yang Cantik - Kenny Diana & Moh. Fendy Alwi
Kesegaran lainnya yang menarik adalah karya instalasi berjudul Akulah oleh Yoelanda S, Julianita L, dan Margarita T. Sebuah cermin bulat yang menempel di dinding seolah ditumbuhi oleh ranting-ranting pohon berdaun kertas-kertas oval yang berisi beragam pernyataan unik individu akan dirinya. Melalui Akulah, mereka mengajak pengunjung pameran untuk merefleksi dirinya sendiri, termasuk karya-karya yang telah dihasilkan dan pengaruhnya bagi entitas di luar dirinya. Para pengunjung dapat mengisi kertas yang telah bertuliskan 'akulah' yang disediakan di samping cermin dengan apa yang ia harapkan dirinya akan menjadi. Instalasi unik ini bikin mesem-mesem sampai terkekeh-kekeh kala membaca pernyataan individu akan si Aku: ada yang begitu filosofis, religius, spontan, random, bahkan ngaco.
Akulah - Yoelanda Sari, Julianita Lim, Margarita Tan

Begitu juga beragam karya lainnya yang tidak bisa dijabarkan di sini satu per satu. Untuk lihat dokumentasi lengkap karya-karya yang dipamerkan, silakan mampir ke album foto milik Bu Iwul, Head of New Media Program di : [sini]

*

Mempertahankan Dahaga

Mampir ke Pameran SEGER selepas bimbingan tugas akhir yang bikin gelisah adalah sebuah kesenangan sendiri buat saya pribadi. Gitu, rasanya kayak disuguhi es teh manis di tengah dahaga. Sayangnya, pameran ini hanya berlangsung 4 hari (berakhir hari ini, Jumat 24 Mei 2013). Di sisi lain, seperti kata Epen (yang dengan baik hati bersedia jadi pemandu pameran dadakan selagi saya muterin pameran), kalau kelamaan nanti jadi enggak seger lagi (kayak es teh manis yang dianggurin kelamaan akhirnya cuma jadi teh pernah dingin dan hampir manis).

Menikmati Pameran SEGER seperti sedang menikmati keinginan yang sempat terlewat untuk jadi mahasiswa nakal (karena bentar lagi udah enggak jadi mahasiswa lagi). Tulisan ini saya buat sebagai salah satu luapan kesenangan dan sebuah gratitude atas rasa gembira itu tadi. Selamat untuk mereka semua yang menjadikan Pameran SEGER terjadi. Dan sebagai orang yang berhak memberi saran kampus, saya ngarep metode belajar yang sesekali nakal-tapi-pinter ini bisa jadi agenda reguler di jurusan; biar mahasiswanya terbiasa untuk terus merasa dahaga akan keilmuan dan penerapan keilmuannya itu sendiri. Semoga semakin seger! (:

* * *


Ditulis oleh mahasiswa tingkat akhir yang lagi sensi kalau ditanya "gimana tugas akhirnya?" atau "abis lulus mau ngapain?"

You Might Also Like

2 comments

followers

Subscribe