5/05/2011 07:13:00 PM
Karl Marx benar, agama adalah opium bagi masyarakat. Pada saat sekarang ini, bukan ajarannya yang menyesatkan, tapi manusianya yang menjadikannya demikian: yang menjadikan Tuhan sebagai obyek dan Aku, kita, manusia, sebagai subyeknya. Agama dan Tuhan menjadi dua entitas yang saling teralienasi satu dan lainnya, juga mengalienasi manusia-manusia sebagai bagian penyusun utamanya.
Dalam prakteknya, banyak manusia yang menuhankan ke-aku-an dirinya sendiri, dan memberhalakan Tuhan yang dikedokkan bagi seleweng dogma yang ia ciptakan sendiri.
Menggunakan kata 'harus' dalam topeng 'religiusitas', untuk kemudian menyembah dirinya sendiri, bukan lagi Tuhan.
"Tidak" katamu? Halah, berkacalah. Memangnya, untuk siapa kamu menampung tubuh dan darah dengan lapis emas seharga berjuta-juta? Memangnya Dia suka, ya, hingar-bingar? Iya, katanya, Tuhan suka manusia yang bersuka cita. Lalu? Pandang saja diri kita masing-masing: basah oleh keringat kesukacitaan yang kita bangun untuk diri kita sendiri, karena kita sama-sama ingin masuk surga, dan tidak ingin tertinggal di dunia atau sampai ke neraka : maka kita sibuk dengan "kita"; kemudian oleh karena label agama yang kita pertontonkan pada dunia, kita meyebut diri kita "mulia".
Gila, kita gila agama; tapi enggak tahu menyembah siapa. Itu loh, dengan membuat orang-orang melihat betapa "rajin"nya kita melakukan tata cara ini itu, tapi kemudian lupa sama orang-orang yang seharusnya menikmati implikasi keberagamaan kita. Atau jangan-jangan dengan ritual-ritual agama dan label-label yang membungkusnya, sebenarnya kita sedang menyembah-nyembah diri kita sendiri, ya?
Iya??
Iya??
Label-label agama adalah pembunuhan moral.
0 comments