­

pada kata-kata

7/27/2010 05:55:00 PM

beberapa teman mengunjungi blog saya dan berkomentar (saat tatap muka) dengan pokok yang sama: gue gak ngerti sama sekali isi blog lu.

saya terus menerus mengatakan pada diri sendiri (dan harus saya sampaikan pada mereka yang menuntut juga), bahwa saya bukan penulis, yang menurut beberapa jurnalis dan penulis senior, harus memiliki kualifikasi-kualifikasi tertentu seperti: penggunaan bahasa yang efektif, penyampaian yang tidak menimbulkan kerancuan, penyampaian yang jelas, dan poin-poin lain yang jauh dari saya (atau mungkin saya jauhi tanpa sengaja).

saya menulis untuk diri saya sendiri. ketika individu lain hadir dan masuk dalam hasil produksi kata-kata saya sebagai pembaca, saya mengucapkan selamat datang dengan keheningan, mengucapkan terima kasih meski tidak didengar, dan menanggalkan embel-embel peraturan: pahami dan ikutilah.

saya menyadari betapa complicatednya pola pikir saya, bukan dalam konteks penyombongan diri, tapi lebih pada upaya permintaan untuk dimengerti tentang ketidakmengertian saya pada diri sendiri.
banyak kata-kata yang terburai dalam kepala hampir di setiap detik saya:pertanyaan-pertanyaan di luar konteks pembicaraan di "dunia nyata", percakapan-percakapan dan suara-suara yang saling berkontradiksi dalam kepala (yang saya yakini adalah suara-suara saya sendiri), atau beberapa cuplikan-cuplikan absurd yang tiba-tiba terbersit dalam pandangan di pikiran saya; hal-hal yang terlalu menakutkan kalau hanya di kepala mereka disimpan.

maka mereka akhirnya tertumpah di sini; postingan yang tersadur dari lamunan dan jentikan-jentikan beberapa bilah-bilah pembicaraan yang asing dalam pikiran.

saya siap dengan kritikan orang atas ketiada-maknaan postingan saya (yang berangkat dari syarat-syarat penulis yang baik tadi), toh semua orang pada dewasa ini harus berani memiliki hati baja atas kritik dan saran orang-orang, baik yang memang membangun dengan cara yang etis atau tidak, atau kritik yang terlontar dari beberapa pihak yang sebenarnya memiliki kedok untuk menjatuhkan, memojokkan, atau meninggikan dirinya sendiri.
kita harus siap.
saya belajar untuk siap.
dan saya sendiri siap untuk menetapkan prinsip "Stick to things you'd love to do. Hell with what people say. As long as you believe it's a right thing to do, keep going on"

*

belakangan ini pun saya sedang dalam masa-masa begitu jatuh hati pada ambiguitas.
lebih lanjut, saya merasa diri saya adalah salah satu refleksi dari ambiguitas itu sendiri, dengan dilihat dari beberapa aspek.
(saya rasa semua orang adalah simbol ambiguitas, yang kadang enggan diakui atau ditonjolkan.)

maka dari itu, saya menyukai mereka yang mampu "bersinar" dalam keambiguannya (dalam tulisan, verbal, dan sebagainya), yang lebih mengarahkan para interpreter pada ke-antara-an; zona abu-abu, bukan sekedar hitam atau putih, benar atau salah, baik atau buruk, dan sebagainya.
atau mungkin lebih cocok dikatakan sebagai pola pikir yang mampu sama-sama menafsirkan keburukan melalui sisi baiknya dan menafsirkan kebaikan (yang terdengar terlalu idealis) melalui sisi buruknya.
suatu upaya pemunculan keseimbangan dalam aspek terkecil apapun, termasuk dalam penilaian yang hanya disampaikan pada diri sendiri.

saya berbahagia dalam pencarian makna, pada sesuatu yang tidak pasti, sesuatu yang mestimulasi kita untuk berpersepsi, menduga, mencari, menelaah, lalu menilai dan menimbang sendiri (termasuk pencarian akan Tuhan sendiri, yang dalam sedikitnya hal yang kita ketahui tentang Dia, dalam kerumitan-Nya, dalam keluarjangkauan-Nya, membawa manusia masuk dalam proses-proses pembelajaran dan pemahaman tentang Dia dengan cara yang beragam; meski secara iman, ada ke-pasti-an tentang Dia yang ditunjukkan)

oleh karena itu, saya membiarkan sebagian postingan saya mengarah ke sana. saya enggan membiasakan diri saya untuk berkembang dengan pola pikir untuk membuat orang seketika percaya dengan tafsiran saya atas pikiran saya sendiri, yang lahir dari sumber yang tak pasti: penglihatan secara nyata, berita di televisi, cerita-cerita orang, atau materi-materi yang saya baca dari buku.

saya lebih suka melahirkan persepsi yang bervariasi atas postingan saya, yang berasal dari pembaca yang memiliki dan memilih perspektif yang berbeda pula. saya enggan membiarkan post saya akhirnya tersendat dalam satu pemahaman. saya senang melihat munculnya possibilities.

*

memposisikan diri saya sebagai pembaca, saya sebenarnya ingin mengajak mereka yang terlalu mudah jatuh dalam persepsi yang seorang penulis patokkan untuk menjadi pembaca yang dewasa (atau yang sering disapa "Pembaca yang budiman").

saya merasa konyol pada seorang teman yang pernah beranggapan bahwa apa yang saya tulis dan katakan (tentang ide-ide, pemikiran, dan mimpi-mimpi) adalah kesalahan karena hanya berangkat dari buku yang saya baca tanpa pernah merasakannya secara langsung, yang seolah menunjuk saya sebagai seorang yang teoritis; seolah menunjukkan bahwa mereka yang gemar membaca adalah orang-orang yang mudah terhipnotis oleh manusia yang lain tanpa memiliki prinsip sendiri untuk menjadi aktif mewujudkan hal-hal "baik" dalam dunia nyata. intinya: tenggelam dalam teori di buku dan hanya mengcopy kata-katanya tanpa memikirkan apa yang sebenarnya mata kita lihat.

saya yakin segala sesuatunya pertama-tama harus berangkat dari teori yang harus dipahami titik kebaikannya, untuk kemudian ditelaah mana yang relevan dengan keadaan yang nyata, lalu diterapkan sebagai bentuk kebijaksanaan.
ya.. kembali lagi dengan kebesaran hati untuk dicap secara salah. toh manusia berhak untuk menilai. saya sudah terbiasa dengan penilaian yang salah dan tak proporsional terhadap saya.
i think pain loves me. hahaha.

katakanlah saya pandai mencari alibi. (sudah saya berulang kali sampaikan that i'm good in finding excuses. trust me.) dan post kali ini bisa dibilang alibi juga sepertinya (kembali lagi pada bagaimana mereka memandang saya dan tulisan-tulisan saya.)

*

belakangan ini rasanya sepi sekali, hanya bergaul dengan buku-buku dan beberapa teman dari dunia maya (teman maya atau bukan sih tetap teman, menurut saya), terlalu banyak berceloteh dalam kepala, dan terlalu banyak bertanya tentang banyak hal.
saya ingat pernah berkata, "kalau memang bisa membagi pengetahuan secara gratis, kenapa enggak?" ketika seorang kawan berbicara tentang buku-buku yang (terlalu) banyak saya miliki (di matanya). saya pikir orang-orang menganggap saya sombong dengan respon tersebut. saya merasa dianggap sombong belakangan ini, saya merasa jauh dari orang-orang yang saya pikir telah kenal dekat, yang saya pikir telah mencintai saya sebagaimana saya mencintai mereka. atau mungkin ini hanya sekedar gelisah saja.

saya hanya ingin menjadi maju, sebagaimana yang Gie cita-citakan, tapi nampaknya ada beberapa orang yang belum siap dengan perubahan.
yasudahlah. biar saja tetap menjadi rancu, seperti yang saya memang (tadi bilanngnya) sukai.

You Might Also Like

0 comments

followers

Subscribe