­

koreng

7/18/2010 10:14:00 PM

saya jenuh sampai mati dengan orang-orang ini;
orang-orang yang hanya bicara dan berbangga atas kekayaannya, melakukan pembedaan terhadap mereka yang sesama manusia dengan memberikan sekat-sekat antara yang kaya dan yang kurang berada, yang eksis dan yang lebih dikucilkan, yang mampu menarik perhatian dengan wajahnya dan yang biasa-biasa saja.
orang-orang yang hanya memberikan kesempatan pada mereka dengan hanya melihat hal-hal klise, yang membuat saya membenci diri sendiri dengan terus menerus mengulanginya: uang, kepopuleran, kecantikan dan ketampanan, keindahan fisik, kekuasaan ---- kesamaan kelas.
masih dengan orang-orang itu.

bosan bosan bosan.
bosan dengan orang-orang demikian yang saya temui seperti tak ada hentinya.
bosan dengan sirkumtansi yang menempatkan saya dengan jahatnya di antara orang-orang ,yang bagi saya, sebenarnya memprihatinkan.
bosan dengan ketidakadilan yang tertutupi pola pikir yang tidak bisa saya nalari, yang telah diasumsikan dengan terburu-buru sebagai adaptasi pada kejamnya kenyataan.
apa sih?
saya bosan! bosan! bosan! bosan! bosan!
kalian terlalu banyak tingkah!

ini seperti kebosanan yang saya curigai akan berakhir pada kebencian yang berakar pada kepatenan stereotip yang salah pada manusia-manusia, yang saya pertanyakan letak kesalahannya: akal budi atau hati nurani.

apa yang membuat mereka merasa jauh lebih baik dari yang mereka kucilkan?
uang?
mayatmu tak butuh uang. liangmu juga nanti akan membiarkan lembaran-lembaran itu busuk dengan dagingmu. abumu yang disebar di lautan juga ogah menampungnya. dan Tuhan-mu sudah terlalu kaya. jagat raya ini Dia yang miliki. sekali jenting pun kamu bisa terseok-seok sambil merengek mencari jalan ke Atas.
apa yang bisa kamu lakukan dengan uangmu?

menyuperioritaskan diri sendiri. dan teman-teman dari 'kelas'mu.
saya melihatmu sebagai orang yang menjijikkan. busuk busuk busuk!
dalam kepala saya terbersit wajah-wajah kalian, dengan penampilan super kece kalian, terbahak dan terkekeh sementara banyak penambang emas mati dalam penggalian belasan meter di bawah tanah untuk emas yang kalian jadikan penyolek "Hormati Aku, Si Orang Kaya", anak-anak kelaparan di belahan dunia yang lain ketika kalian membuang-buang pangan sekedar untuk menyusutkan perut, menjadi cantik lalu mengintimidasi kawan-kawan yang kalian labeli "ketinggalan jaman" karena tidak berpakaian beraksesoris ataupun tak bergadget sekeren kalian, orang-orang menjual ginjal di India untuk menghidupi diri sementara yang terpampang di pikiranku adalah wajah-wajah kalian, yang seolah lupa ada yang bisa begitu berbesar hati mengingat kata "Syukur" ketika saya sendiri melihat tak ada yang bisa mereka syukuri. syukur karena hidup? "Nasib terbaik adalah untuk tidak dilahirkan" nampak lebih cocok menjadi filsafah hidup mereka.
dan saya masih dijejeli ingatan tentang wajah-wajah kalian.

saya menjadi sangat sensitif belakangan ini.
dan saya geram.
dan kegeraman ini, mendadak bertambah parah ketika keinginan menjadi apatis semakin diinterupsi bukti-bukti menyakitkan mata yang semakin didekatkan pada hati yang menjadi terlanjur peka ini.
geram pada hal yang juga diteriakkan orang banyak namun tetap tidak mengubah apa-apa.
geram pada realita yang membuat tingkah kalian nampak sebagai hakikat dari eksistensi manusia.kita.
geram pada kesemena-menaan kalian, yang mengakunya ber-Tuhan.
kadang saya berpikir, mereka yang nampak tidak mengerti tentang hal-hal baik, barang sedikit (kemurahan hati, kemanusiaan, kebaikan, kasih sayang, keikhlasan, pengorbanan, keinginan untuk berbagi, kerendahan hati, kelapangan dada, keadilan, kejujuran, kebenaran) hanya sekedar punya agama, bukan ber-agama. kamu artikan sendiri maksud saya.
maka saya geram pada mereka yang mengecap jelek keagamaan karena umat punya-agama nya bertingkah seperti orang orang tidak waras. bahkan kawan saya yang ateis saja tahu caranya berbagi, tahu makna sesungguhnya persaudaraan, dan mampu dia terapkan secara nyata pada saya.

dan saya sampai pada momen ketika akhirnya geram pada diri saya sendiri.
yang hanya mampu bicara tentang hal yang salah ini tanpa tahu apa yang harus dilakukan.

lalu akhirnya saya bosan pada orang-orang di sekitar saya, yang terlalu terbuai istilah: "think positive", yang membuatnya lebih memilih untuk bersenang-senang dan melakukan hal-hal yang menurut saya tak pantas untuk dilakukan terus menerus ketika sebenarnya mereka tahu ada bagian dari manusia ini yang perlu ditolong, untuk diperhatikan, untuk dijadikan kawan yang sebenarnya juga punya hak asasi untuk memperoleh kebahagiaan.


terkadang saya memilih untuk menyendiri. akhir akhir ini saya berpikir demikian.
atau setidaknya menemukan beberapa kepala yang bisa saya ajak berbincang tentang solusi, tentang hal nyata yang saya (atau kami, kita) sebenarnya mampu lakukan.
saya ingin mengambil bagian dalam upaya mencapai kebahagiaan mereka yang terlanjur dikucilkan.
pada saat ini ingin sekali saya katakan, "Aku besertamu orang-orang malang" (Gie)

saya jenuh. entah ini jenuh yang baik atau tidak.
bahkan saya jenuh dengan pola pandang orang-orang semacam mama.

sebuah iklan kemanusiaan di radio ibukota
narator iklan: tahukah kamu? harga sepasang sepatu bermerk seharga 200ribu, bisa membiayai sekolah anak SMP selama satu bulan.... tahukah kamu? harga cangkir kopi yang kalian beli di kafe bisa membiayai... kenapa tidak coba menghabiskan uang itu selama satu bulan untuk membiayai anak putus sekolah?
mama: kalo kayak gitu ya pengusaha kafe bangkrut dong! enggak ada yang beli kopi di kafenya!

pada saat itu saya meledak tentang betapa salahnya perkataan beliau, melihat dari persepsi yang berat sebelah tanpa mau menelaah pilahan prioritas, menghancurkan hati saya.
saya bilang itu hanya persoalan keseimbangan, tentang menikmati kesenanganmu dan bagaimana membaginya dengan orang lain yang terlalu "sial" nasibnya bahkan untuk melihat kesempatan tentang kebahagiaan pun belum pernah.
tentang bagaimana kamu ingin dihargai dan mereka pun ingin disadari keberadaannya.
dan mama membuat saya seperti orang dungu dengan pemikiran itu, ketika menjawabi saya dengan keheningan.

arogansi dari mereka yang terlanjur memiliki stereotip terhadap orang tak punya, orang miskin, orang yang kurang beruntung, mendiskriminasi mereka seolah kehadirannya tak pantas, telah memperparah mental-mental orang-orang kecil itu.
saya pernah dengar seorang pengamen sekitar 12tahun menyerapah "anj**g! k***ol! b****at!" ketika tak seorang penumpang pun memberinya uang, dan ketika itu saya semakin dibawa pada kenyataan tentang betapa parahnya kesalahan-kesalahan ini sudah berdampak.

seperti luka yang semakin jelek tampilannya. koreng-koreng kemanusiaan.
kepedulian yang somplak dari orang-orang yang mampu memberi.
etika dan moral yang keburu kering di orang-orang yang saya kasihani, yang saya pikir membuat mereka akhirnya pasrah jadi orang susah, menunggu pertolongan orang lain. lalu menyalahkan mereka yang tidak mau berbagi. manja.

dan saya semakin geram dalam kebingungan yang saya timbulkan sendiri,
tentang kesalahan-kesalahan yang kontinu, yang satu memperparah yang lain.

saya ingin melakukan sesuatu untuk setidaknya, mengurangi koreng koreng ini semakin parah mengakar.
saya butuh orang-orang baru di sekitar saya, yang bisa saya ajak berbagi tentang kegelisahan saya, tentang manusia-manusia, tentang dunia.
ah.

mungkin hanya sebatas perkara sederhana: jenuh saya. mungkin saja.
tapi koreng ini makin menyengat bau busuknya.
dan orang orang yang mengaku waras ini menjilatinya seperti sebuah kelaziman.

You Might Also Like

0 comments

followers

Subscribe