menghabiskan malam pergantian tahun 2010 ke 2011 dengan terompet, makanan enak, dan keluarga besar: anak-anak kecil yang berlarian dengan teriakan-teriakan mereka, para ibu yang sibuk dengan hal-hal yang kadang tidak terpikirkan untuk disibukkan, dan para bapak yang sibuk dengan.. percakapan mereka yang tidak ingin saya curi-dengar.
finally have some minutes to write something. today's november 17, 2010 and many things happened in last 2 weeks, too much to explain and be written down here. but i wont write much, wont elaborate much, anyway.
masih punya beberapa hari sebelum officially memulai kegiatan perkuliahan semester 3, yang artinya masih punya waktu untuk menyelesaikan beberapa stok buku-bacaan-liburan. salah satunya: Jalur Gaza karya wartawan senior Kompas, Trias Kuncahyono.
saya baru sampai bagian awal buku. mungkin karena pikiran saya terlalu sering melayang-layang ke gambaran tidak-manusiawi tentang dampak perang selagi membaca.
saya sedang menjalari satu halaman ketika pikiran saya kembali melanglang buana ke satu hal.
waktu itu saya sedang membaca di dapur, menemani mama.
"ma, di palestina ada sekolahan kan?"
saya baru sampai bagian awal buku. mungkin karena pikiran saya terlalu sering melayang-layang ke gambaran tidak-manusiawi tentang dampak perang selagi membaca.
saya sedang menjalari satu halaman ketika pikiran saya kembali melanglang buana ke satu hal.
waktu itu saya sedang membaca di dapur, menemani mama.
"ma, di palestina ada sekolahan kan?"
humans are funny, aren't we?
seperti yang satu ini:
seperti yang satu ini:
semalam gak bisa tidur seperti biasa, lalu berakhir dengan mantengin bioskop trans tv, Men In Black.
di bagian awal, ada truk yang selundupin orang-orang spanyol di perbatasan amerika selatan. petugas perbatasan menghentikan truk, menanyai si supir, mengecek isi truk (yang ternyata berisi orang, bukan hasil fishing seperti yang diucapkan supir tersebut), lalu si petugas mengajukan pertanyaan yang menjentikkan sesuatu di kepala saya:
di bagian awal, ada truk yang selundupin orang-orang spanyol di perbatasan amerika selatan. petugas perbatasan menghentikan truk, menanyai si supir, mengecek isi truk (yang ternyata berisi orang, bukan hasil fishing seperti yang diucapkan supir tersebut), lalu si petugas mengajukan pertanyaan yang menjentikkan sesuatu di kepala saya:
Halo (: Akhirnya berkesempatan untuk menulis sesuatu di blog ini. Maafkan kemalasan berpikir dan menyimpan kata-kata saya. Ini memang penyakit yang udah gak ketolongan. haha. Post kali ini akan bertele-tele seperti biasanya, dengan satu inti: "hello".
Pertama-tama, berita duka datang dari sahabat setia saya di kala suka dan duka, yang pada masa hidupnya punya musuh yang sama dengan saya: PLN. Ia kehilangan segala kemampuannya untuk berkontribusi dalam pengerjaan karya-karya studi saya ke depan. Air mata untuk almarhum komputer saya. Air mata yang sesungguhnya, karena motherboard tidak bisa tertolong dan tidak ada satu data pun yang terbaca untuk diselamatkan: karya-karya vektor saya (file-file .ai), file-file .psd, maupun hasil jepretan si Perseus. Saya seperti kehilangan jati diri, karena dengan hilangnya karya-karya awal, sebagai seorang mahasiswa desain saya seperti kehilangan masa lalu; penggambaran tentang kemampuan saya di awal-awal studi sebagai patokan kemajuan saya. Menyedihkan. Saya nangis sesegukan waktu tahu berita tersebut. Yang saya paling tangisi adalah harta terbesar saya: koleksi font harus hilang. *mewek* *peres lap*
Maka sekarang, saya mengucapkan "hello" pada my new lappie. *elus-elus layar*
Oh. In case you wonder, Perseus is my DSLR. Hmm.. yes, I gave a name for my DSLR. . .
Well, kedua: jadwal kuliah saya untuk semester 3 sudah keluar. Kegiatan tidur subuh bangun pagi akan segera dimulai lagi pada 20 September nanti. Satu perbedaan mencolok di semester 3 ini: saya ada kelas di hari Sabtu, dimulai pukul 07.20. Yep, this time hello goes to.. assignments!
All hail Sketchbooks! :worship:
ternyata memang benar, ya, untuk memulai sebuah "Halo", harus ada "Selamat tinggal" dulu yang memulai. Halo pada laptop, selamat tinggal pada komputer dan data-data. Halo pada kehidupan baru di semester 3, selamat tinggal pada liburan yang menyenangkan ini (meski kadang membosankan).
Yang pasti, saya akan sangat merindukan masa-masa liburan yang luar biasa ini, yang sebenarnya lebih banyak membawa saya belajar dan berobsesi untuk menjadi seorang pekerja sosial ketimbang seorang desainer dikarenakan buku-buku bacaan yang saya kunyah (dalam dan di luar arti harafiah). Agak aneh ya?
Tidak sedemikian saya sesalkan juga sih, karena memang sudah berencana untuk "belajar", dengan melahap beberapa bahan bacaan berbau sosial dan filosofis, dengan bumbu-bumbu politik dari timeline orang-orang influental yang saya follow di twitter. omong-omong soal buku filsafat, beberapa tulisan filsuf terkenal seperti aristotle, david hume, john locke, nietzsche, dan kawan-kawannya bisa didownload dengan gratis dan mudah di : www.manybooks.com. koleksinya luar biasa lengkap, dengan genre yang beragam dan bahasa yang beragam juga.
bukan berarti saya lupa untuk mendesainerkan diri juga loh :D Beberapa cute vectors saya buat selama liburan,untuk iseng-iseng, salah satunya adalah avatar kak Jed Revolutia (pemikir idola saya, haha, sila difollow twitternya, @revolutia), dan beberapa lainnya bisa dilihat di DeviantArt atau Portfolio saya (:
oh ya, belakangan saya jadi suka sekali berdiskusi tentang apapun (dan gak jarang juga malah jadi debat kecil, hehe), dan bikin pemikiran saya semakin terbuka, dan kesinisan saya makin berkurang (bagaimana pun kesinisan harus tetap disisakan sedikit, hihi). baru saya sadari, saya masih tetap senang mendengarkan people's stories, melihat segala sesuatu dari titik pandang orang banyak. menyenangkan. hal ini bikin saya kangen juga sih dengan cita-cita lama saya: psikolog :p
tapi karena sudah keburu nemplok di jurusan dkv, rasa-rasanya hati saya pun mengucapkan "hello" juga pada beberapa keinginan baru: pekerja sosial dan aktivis kemanusiaan. it may sound funny for some people, tapi saya lately jadi makin kepengin gabung di komnas HAM. apakah saya harus menjadi seorang lulusan fakultas hukum dulu? hmmm.
there's been something in my heart begging, "let me be people's person."
i want to be people's person. let me be.
can't we try, just for a little while, to ignore our human intuition to make distinction?
let the differences be nothing but a mere life fact.
there's no one in this world could choose what nation they want to be a part of, what descent they want to be, what kind of environment they want to be born in, what skin color they want to have. it's something you should just face. can you even fucking choose?!
i want to be people's person. let me be.
can't we try, just for a little while, to ignore our human intuition to make distinction?
let the differences be nothing but a mere life fact.
there's no one in this world could choose what nation they want to be a part of, what descent they want to be, what kind of environment they want to be born in, what skin color they want to have. it's something you should just face. can you even fucking choose?!
beberapa teman mengunjungi blog saya dan berkomentar (saat tatap muka) dengan pokok yang sama: gue gak ngerti sama sekali isi blog lu.
saya terus menerus mengatakan pada diri sendiri (dan harus saya sampaikan pada mereka yang menuntut juga), bahwa saya bukan penulis, yang menurut beberapa jurnalis dan penulis senior, harus memiliki kualifikasi-kualifikasi tertentu seperti: penggunaan bahasa yang efektif, penyampaian yang tidak menimbulkan kerancuan, penyampaian yang jelas, dan poin-poin lain yang jauh dari saya (atau mungkin saya jauhi tanpa sengaja).
saya menulis untuk diri saya sendiri. ketika individu lain hadir dan masuk dalam hasil produksi kata-kata saya sebagai pembaca, saya mengucapkan selamat datang dengan keheningan, mengucapkan terima kasih meski tidak didengar, dan menanggalkan embel-embel peraturan: pahami dan ikutilah.
saya menyadari betapa complicatednya pola pikir saya, bukan dalam konteks penyombongan diri, tapi lebih pada upaya permintaan untuk dimengerti tentang ketidakmengertian saya pada diri sendiri.
banyak kata-kata yang terburai dalam kepala hampir di setiap detik saya:pertanyaan-pertanyaan di luar konteks pembicaraan di "dunia nyata", percakapan-percakapan dan suara-suara yang saling berkontradiksi dalam kepala (yang saya yakini adalah suara-suara saya sendiri), atau beberapa cuplikan-cuplikan absurd yang tiba-tiba terbersit dalam pandangan di pikiran saya; hal-hal yang terlalu menakutkan kalau hanya di kepala mereka disimpan.
maka mereka akhirnya tertumpah di sini; postingan yang tersadur dari lamunan dan jentikan-jentikan beberapa bilah-bilah pembicaraan yang asing dalam pikiran.
saya siap dengan kritikan orang atas ketiada-maknaan postingan saya (yang berangkat dari syarat-syarat penulis yang baik tadi), toh semua orang pada dewasa ini harus berani memiliki hati baja atas kritik dan saran orang-orang, baik yang memang membangun dengan cara yang etis atau tidak, atau kritik yang terlontar dari beberapa pihak yang sebenarnya memiliki kedok untuk menjatuhkan, memojokkan, atau meninggikan dirinya sendiri.
kita harus siap.
saya belajar untuk siap.
dan saya sendiri siap untuk menetapkan prinsip "Stick to things you'd love to do. Hell with what people say. As long as you believe it's a right thing to do, keep going on"
*
belakangan ini pun saya sedang dalam masa-masa begitu jatuh hati pada ambiguitas.
lebih lanjut, saya merasa diri saya adalah salah satu refleksi dari ambiguitas itu sendiri, dengan dilihat dari beberapa aspek.
(saya rasa semua orang adalah simbol ambiguitas, yang kadang enggan diakui atau ditonjolkan.)
maka dari itu, saya menyukai mereka yang mampu "bersinar" dalam keambiguannya (dalam tulisan, verbal, dan sebagainya), yang lebih mengarahkan para interpreter pada ke-antara-an; zona abu-abu, bukan sekedar hitam atau putih, benar atau salah, baik atau buruk, dan sebagainya.
atau mungkin lebih cocok dikatakan sebagai pola pikir yang mampu sama-sama menafsirkan keburukan melalui sisi baiknya dan menafsirkan kebaikan (yang terdengar terlalu idealis) melalui sisi buruknya.
suatu upaya pemunculan keseimbangan dalam aspek terkecil apapun, termasuk dalam penilaian yang hanya disampaikan pada diri sendiri.
saya berbahagia dalam pencarian makna, pada sesuatu yang tidak pasti, sesuatu yang mestimulasi kita untuk berpersepsi, menduga, mencari, menelaah, lalu menilai dan menimbang sendiri (termasuk pencarian akan Tuhan sendiri, yang dalam sedikitnya hal yang kita ketahui tentang Dia, dalam kerumitan-Nya, dalam keluarjangkauan-Nya, membawa manusia masuk dalam proses-proses pembelajaran dan pemahaman tentang Dia dengan cara yang beragam; meski secara iman, ada ke-pasti-an tentang Dia yang ditunjukkan)
oleh karena itu, saya membiarkan sebagian postingan saya mengarah ke sana. saya enggan membiasakan diri saya untuk berkembang dengan pola pikir untuk membuat orang seketika percaya dengan tafsiran saya atas pikiran saya sendiri, yang lahir dari sumber yang tak pasti: penglihatan secara nyata, berita di televisi, cerita-cerita orang, atau materi-materi yang saya baca dari buku.
saya lebih suka melahirkan persepsi yang bervariasi atas postingan saya, yang berasal dari pembaca yang memiliki dan memilih perspektif yang berbeda pula. saya enggan membiarkan post saya akhirnya tersendat dalam satu pemahaman. saya senang melihat munculnya possibilities.
*
memposisikan diri saya sebagai pembaca, saya sebenarnya ingin mengajak mereka yang terlalu mudah jatuh dalam persepsi yang seorang penulis patokkan untuk menjadi pembaca yang dewasa (atau yang sering disapa "Pembaca yang budiman").
saya merasa konyol pada seorang teman yang pernah beranggapan bahwa apa yang saya tulis dan katakan (tentang ide-ide, pemikiran, dan mimpi-mimpi) adalah kesalahan karena hanya berangkat dari buku yang saya baca tanpa pernah merasakannya secara langsung, yang seolah menunjuk saya sebagai seorang yang teoritis; seolah menunjukkan bahwa mereka yang gemar membaca adalah orang-orang yang mudah terhipnotis oleh manusia yang lain tanpa memiliki prinsip sendiri untuk menjadi aktif mewujudkan hal-hal "baik" dalam dunia nyata. intinya: tenggelam dalam teori di buku dan hanya mengcopy kata-katanya tanpa memikirkan apa yang sebenarnya mata kita lihat.
saya yakin segala sesuatunya pertama-tama harus berangkat dari teori yang harus dipahami titik kebaikannya, untuk kemudian ditelaah mana yang relevan dengan keadaan yang nyata, lalu diterapkan sebagai bentuk kebijaksanaan.
ya.. kembali lagi dengan kebesaran hati untuk dicap secara salah. toh manusia berhak untuk menilai. saya sudah terbiasa dengan penilaian yang salah dan tak proporsional terhadap saya.
i think pain loves me. hahaha.
katakanlah saya pandai mencari alibi. (sudah saya berulang kali sampaikan that i'm good in finding excuses. trust me.) dan post kali ini bisa dibilang alibi juga sepertinya (kembali lagi pada bagaimana mereka memandang saya dan tulisan-tulisan saya.)
*
belakangan ini rasanya sepi sekali, hanya bergaul dengan buku-buku dan beberapa teman dari dunia maya (teman maya atau bukan sih tetap teman, menurut saya), terlalu banyak berceloteh dalam kepala, dan terlalu banyak bertanya tentang banyak hal.
saya ingat pernah berkata, "kalau memang bisa membagi pengetahuan secara gratis, kenapa enggak?" ketika seorang kawan berbicara tentang buku-buku yang (terlalu) banyak saya miliki (di matanya). saya pikir orang-orang menganggap saya sombong dengan respon tersebut. saya merasa dianggap sombong belakangan ini, saya merasa jauh dari orang-orang yang saya pikir telah kenal dekat, yang saya pikir telah mencintai saya sebagaimana saya mencintai mereka. atau mungkin ini hanya sekedar gelisah saja.
saya hanya ingin menjadi maju, sebagaimana yang Gie cita-citakan, tapi nampaknya ada beberapa orang yang belum siap dengan perubahan.
yasudahlah. biar saja tetap menjadi rancu, seperti yang saya memang (tadi bilanngnya) sukai.
saya terus menerus mengatakan pada diri sendiri (dan harus saya sampaikan pada mereka yang menuntut juga), bahwa saya bukan penulis, yang menurut beberapa jurnalis dan penulis senior, harus memiliki kualifikasi-kualifikasi tertentu seperti: penggunaan bahasa yang efektif, penyampaian yang tidak menimbulkan kerancuan, penyampaian yang jelas, dan poin-poin lain yang jauh dari saya (atau mungkin saya jauhi tanpa sengaja).
saya menulis untuk diri saya sendiri. ketika individu lain hadir dan masuk dalam hasil produksi kata-kata saya sebagai pembaca, saya mengucapkan selamat datang dengan keheningan, mengucapkan terima kasih meski tidak didengar, dan menanggalkan embel-embel peraturan: pahami dan ikutilah.
saya menyadari betapa complicatednya pola pikir saya, bukan dalam konteks penyombongan diri, tapi lebih pada upaya permintaan untuk dimengerti tentang ketidakmengertian saya pada diri sendiri.
banyak kata-kata yang terburai dalam kepala hampir di setiap detik saya:pertanyaan-pertanyaan di luar konteks pembicaraan di "dunia nyata", percakapan-percakapan dan suara-suara yang saling berkontradiksi dalam kepala (yang saya yakini adalah suara-suara saya sendiri), atau beberapa cuplikan-cuplikan absurd yang tiba-tiba terbersit dalam pandangan di pikiran saya; hal-hal yang terlalu menakutkan kalau hanya di kepala mereka disimpan.
maka mereka akhirnya tertumpah di sini; postingan yang tersadur dari lamunan dan jentikan-jentikan beberapa bilah-bilah pembicaraan yang asing dalam pikiran.
saya siap dengan kritikan orang atas ketiada-maknaan postingan saya (yang berangkat dari syarat-syarat penulis yang baik tadi), toh semua orang pada dewasa ini harus berani memiliki hati baja atas kritik dan saran orang-orang, baik yang memang membangun dengan cara yang etis atau tidak, atau kritik yang terlontar dari beberapa pihak yang sebenarnya memiliki kedok untuk menjatuhkan, memojokkan, atau meninggikan dirinya sendiri.
kita harus siap.
saya belajar untuk siap.
dan saya sendiri siap untuk menetapkan prinsip "Stick to things you'd love to do. Hell with what people say. As long as you believe it's a right thing to do, keep going on"
*
belakangan ini pun saya sedang dalam masa-masa begitu jatuh hati pada ambiguitas.
lebih lanjut, saya merasa diri saya adalah salah satu refleksi dari ambiguitas itu sendiri, dengan dilihat dari beberapa aspek.
(saya rasa semua orang adalah simbol ambiguitas, yang kadang enggan diakui atau ditonjolkan.)
maka dari itu, saya menyukai mereka yang mampu "bersinar" dalam keambiguannya (dalam tulisan, verbal, dan sebagainya), yang lebih mengarahkan para interpreter pada ke-antara-an; zona abu-abu, bukan sekedar hitam atau putih, benar atau salah, baik atau buruk, dan sebagainya.
atau mungkin lebih cocok dikatakan sebagai pola pikir yang mampu sama-sama menafsirkan keburukan melalui sisi baiknya dan menafsirkan kebaikan (yang terdengar terlalu idealis) melalui sisi buruknya.
suatu upaya pemunculan keseimbangan dalam aspek terkecil apapun, termasuk dalam penilaian yang hanya disampaikan pada diri sendiri.
saya berbahagia dalam pencarian makna, pada sesuatu yang tidak pasti, sesuatu yang mestimulasi kita untuk berpersepsi, menduga, mencari, menelaah, lalu menilai dan menimbang sendiri (termasuk pencarian akan Tuhan sendiri, yang dalam sedikitnya hal yang kita ketahui tentang Dia, dalam kerumitan-Nya, dalam keluarjangkauan-Nya, membawa manusia masuk dalam proses-proses pembelajaran dan pemahaman tentang Dia dengan cara yang beragam; meski secara iman, ada ke-pasti-an tentang Dia yang ditunjukkan)
oleh karena itu, saya membiarkan sebagian postingan saya mengarah ke sana. saya enggan membiasakan diri saya untuk berkembang dengan pola pikir untuk membuat orang seketika percaya dengan tafsiran saya atas pikiran saya sendiri, yang lahir dari sumber yang tak pasti: penglihatan secara nyata, berita di televisi, cerita-cerita orang, atau materi-materi yang saya baca dari buku.
saya lebih suka melahirkan persepsi yang bervariasi atas postingan saya, yang berasal dari pembaca yang memiliki dan memilih perspektif yang berbeda pula. saya enggan membiarkan post saya akhirnya tersendat dalam satu pemahaman. saya senang melihat munculnya possibilities.
*
memposisikan diri saya sebagai pembaca, saya sebenarnya ingin mengajak mereka yang terlalu mudah jatuh dalam persepsi yang seorang penulis patokkan untuk menjadi pembaca yang dewasa (atau yang sering disapa "Pembaca yang budiman").
saya merasa konyol pada seorang teman yang pernah beranggapan bahwa apa yang saya tulis dan katakan (tentang ide-ide, pemikiran, dan mimpi-mimpi) adalah kesalahan karena hanya berangkat dari buku yang saya baca tanpa pernah merasakannya secara langsung, yang seolah menunjuk saya sebagai seorang yang teoritis; seolah menunjukkan bahwa mereka yang gemar membaca adalah orang-orang yang mudah terhipnotis oleh manusia yang lain tanpa memiliki prinsip sendiri untuk menjadi aktif mewujudkan hal-hal "baik" dalam dunia nyata. intinya: tenggelam dalam teori di buku dan hanya mengcopy kata-katanya tanpa memikirkan apa yang sebenarnya mata kita lihat.
saya yakin segala sesuatunya pertama-tama harus berangkat dari teori yang harus dipahami titik kebaikannya, untuk kemudian ditelaah mana yang relevan dengan keadaan yang nyata, lalu diterapkan sebagai bentuk kebijaksanaan.
ya.. kembali lagi dengan kebesaran hati untuk dicap secara salah. toh manusia berhak untuk menilai. saya sudah terbiasa dengan penilaian yang salah dan tak proporsional terhadap saya.
i think pain loves me. hahaha.
katakanlah saya pandai mencari alibi. (sudah saya berulang kali sampaikan that i'm good in finding excuses. trust me.) dan post kali ini bisa dibilang alibi juga sepertinya (kembali lagi pada bagaimana mereka memandang saya dan tulisan-tulisan saya.)
*
belakangan ini rasanya sepi sekali, hanya bergaul dengan buku-buku dan beberapa teman dari dunia maya (teman maya atau bukan sih tetap teman, menurut saya), terlalu banyak berceloteh dalam kepala, dan terlalu banyak bertanya tentang banyak hal.
saya ingat pernah berkata, "kalau memang bisa membagi pengetahuan secara gratis, kenapa enggak?" ketika seorang kawan berbicara tentang buku-buku yang (terlalu) banyak saya miliki (di matanya). saya pikir orang-orang menganggap saya sombong dengan respon tersebut. saya merasa dianggap sombong belakangan ini, saya merasa jauh dari orang-orang yang saya pikir telah kenal dekat, yang saya pikir telah mencintai saya sebagaimana saya mencintai mereka. atau mungkin ini hanya sekedar gelisah saja.
saya hanya ingin menjadi maju, sebagaimana yang Gie cita-citakan, tapi nampaknya ada beberapa orang yang belum siap dengan perubahan.
yasudahlah. biar saja tetap menjadi rancu, seperti yang saya memang (tadi bilanngnya) sukai.
saya seperti melihat upaya pembutaan diri yang dilakukan oleh beberapa orang pada hari-hari saya mulai memekakan diri belakangan ini; pembutaan pada apa yang 'sekarang' dengan berdalih pada visi untuk menimang yang 'nanti'.
bukan berarti saya sedang memberikan cap 'salah' dan cap 'benar' di antara orang-orang yang berdalih dan yang tidak, toh saya sendiri juga secara pribadi, merasa menjadi seperti bagian dari orang-orang yang terlalu berpaku pada visi akan apa yang 'nanti'.
semalam saya pesan kacamata baru di daerah Pasar Lama, berhubung kacamata yang sebelumnya (yang masih baru 4bulan yang lalu saya beli) secara tidak sengaja saya patahkan. total harga frame dan lensa kacamatanya sekitar 410,000 IDR (setelah didiskon 50%); dan saya berangan-angan tentang barang yang bisa dibeli dengan nominal segitu selain untuk mengganti kacamata: buku-buku baru, kuas dan sketchbook baru, cat akrilik/poster, dompet baru, atau yang lainnya.
ketika mengingat pikiran saya kemarin malam itulah saya merasa saya sedang membutakan diri,
karena belum ada satu jam sebelumnya, saya merasa iba dan miris melihat bayi pengemis yang sedang tidur di trotoar depan mobil saya parkir, badannya yang kecil dan ringkih menempel langsung ke jalanan, tidur pulas dengan berselimut kain batik tipis (kira-kira pukul 20.30 waktu itu dan Tangerang mendung)
apakah saya yang terlalu berlebih, menjadi terlalu tenggelam dalam keibaan sekaligus kemarahan melihat bentuk-bentuk ketidakadilan yang saya lihat di sepanjang jalan(yang kedengarannya makin hari makin klasik saja)?
apakah saya nampak seperti apatis ketika pemandangan pengemis, pemulung, anak jalanan, dan lingkungan kumuh sudah berlalu dari jarak pandang, saya melupakaan keibaan dan kemarahan saya dan secara tiba-tiba menyibukkan pikiran dengan menjejalkan ide-ide yang mungkin dikembangkan dan dituangkan dalam visual-visual desain sebagai tambahan portfolio saya sebagai mahasiswi desain?
saya merasa kebingungan saya sedang melunjak belakangan ini, seperti anak manja yang menggelendot minta dituruti keinginannya; terutama dalam memprioritaskan kemana kegelisahan harusnya membuahkan aksi-aksi: pada yang 'sekarang' atau pada yang 'nanti'.
(maaf saya terlalu banyak menggunakan kata 'gelisah' dalam postingan. mungkin ini pengaruh penggunaan kata 'gelisah' yang banyak saya jumpai di bacaan tentang Soe Hok Gie atau memang saya tiba pada momen jatuh cinta pada kata yang akhirnya bisa menjelaskan membludaknya pertanyaan-pertanyaan dalam kepala saya)
kemana saya seharusnya memusatkan pikiran? bagaimana seharusnya saya membagi waktu untuk berpikir tentang yang sekarang dan yang nanti?
menurut Paulo Coelho, kita tidak bisa menembak satu titik dengan dua anak panah sekaligus, tapi saya tidak pernah merasa cukup bijak untuk memilih giliran pelesatan anak panah saya sendiri.
saya merasa ingin menjadi serakah, menjadi segala-galanya, membagi pikiran saya untuk semuanya.
saya ingin berkutat dengan yang sekarang, 'present',
tentang apa yang saya lihat,
tentang manusia-manusia yang bisa saya kasihi: anak-anak kecil berlarian mengejar bis tanpa alas kaki lalu bernyanyi meminta uang untuk makan, perempuan-perempuan yang terlanjur hilang harga dengan menjaja diri di antara remang-remang malam, orang-orang cacat yang dicap sebagai sampah dan hanya patut dihargai oleh rasa jijik, atau bahkan kawan-kawan yang merasa tertipu oleh dunia, atau orang-orang benar yang dicurangi oleh kekuasaan yang akhirnya kebenarannya dicorengi kepalsuan.
tentang hal-hal yang berangkat dari teori tentang kemanusiaan, tentang kebaikan, virtues.
atau sekedar tentang bagaimana kawan-kawan saya menanggap sepele ke-Indonesia-annya, merendahkan karya orang, atau tukang kritik yang hanya berangkat dari ilmu lalu meninggalkan etika dan moralnya. hal-hal seperti itu, yang mungkin terdengar seperti sebuah mimpi-mimpi idealis.
tapi saya juga ingin berkutat dengan yang nanti,
tentang visi yang tergambar dalam mimpi-mimpi saya, dalam gerakan saya di masa kini, dalam apa yang saya persiapkan dan akan saya korbankan,
tentang kehidupan, tentang cita-cita, pekerjaan saya nanti. sesuatu yang lebih berbau sekuler.
saya jadi ingat tweet seorang dosen saya: "manusia o manusia, ke-apa-an mu belum jelas, tapi sudah banyak maunya"
ke-apa-an saya sendiri belum jelas, tapi saya banyak maunya.
tapi dengan berangkat dari kesoktahuan, saya pikir, dengan memiliki banyak mau, ke-apa-an bisa dicari. mungkin saja.
jadi saya berpikir untuk memiliki banyak mau, membuat sibuk pikiran sesibuk-sibuknya, mendayagunakan fungsinya, meski mencari ke-apa-an bukan tujuan utama saya juga.
saya hanya ingin bicara tentang hati, tentang menjawab alasan munculnya kegelisahan tak beralasan dan tak terdeskripsikan yang membuat saya melihat diri sendiri sebagai orang yang aneh,
atau mungkin... sekedar mencari jati diri (yang belum juga saya rasa telah temukan di usia yang hampir menginjak 19 ini)
lalu saya teringat pada artikel SHG yang berjudul "Siapakah Saya?" (sebuah artikel yang wajib dibaca, bisa ditemukan di halaman 459 buku SHG Sekali Lagi);
untuk mencari tahu ke-siapa-an (berbeda dengan ke-apa-an? entah, saya tidak belajar filsafat), hanya perlu berangkat dari apa yang kita pikirkan tentang kita sendiri. "a man is as he thinks, you can't change it", ujarnya, mengutip sebuah film Cekoslovakia, And The Fifth Horseman is Fear.
teman-teman sering bilang, saya lebih cocok masuk jurusan Filsafat, Psikologi, atau Sastra. Seorang satpam di LP3ES bahkan pernah bertanya, "Kuliah Politik dimana?", seorang teman di gereja pernah nyeletuk, "Kak Ellena anak Desain atau anak Hukum sih?" yang kadang mengendurkan semangat saya dalam melanjutkan kuliah DKV.
tapi dengan berangkat dari apa yang sekarang saya pikirkan dalam diri saya sendiri, saya ingin menjadi seorang manusia yang mau berangkat dari ajaran keagamaan saya, namun mampu berpegang pada kemanusiaan, yang mau peka dan terbuka pada apa yang sekarang; mampu tetap berada dalam jalur yang saya pilih sebagai seorang mahasiswi yang bisa memperjuangkan nilai-nilai intelektualitas dalam kehidupan sosial, dengan tidak melupakan spesialisasi saya sebagai seorang calon desainer, untuk mengembangkan ide dan keterampilan.
saya pikir ini bisa mendorong saya untuk maju ketika ada ketakutan-ketakutan yang menghampiri saya dalam beberapa segi kesiapaan saya:
ketika ragu dalam berkarya di perkuliahan,
atau ketika ragu dalam membaca beberapa bacaan propaganda ateisme/agnostisme,
atau ketika ragu untuk menyuarakan sesuatu tentang keadaan sosial di sekitar saya,
atau hal-hal lain yang kadang dianggap tidak berhubungan satu sama lain.
saya takut akan komitmen. saya enggan berpegang pada satu label atas diri saya sendiri.
saya enggan berkomitmen pada yang kini saja atau hanya yang nanti saja.
katakanlah saya rakus untuk menjadi segala-galanya,
namun bagaimana kalau saya ajukan pilihan untuk menjadi something between?
saya hanya bertanya terlalu banyak.
saya jenuh sampai mati dengan orang-orang ini;
orang-orang yang hanya bicara dan berbangga atas kekayaannya, melakukan pembedaan terhadap mereka yang sesama manusia dengan memberikan sekat-sekat antara yang kaya dan yang kurang berada, yang eksis dan yang lebih dikucilkan, yang mampu menarik perhatian dengan wajahnya dan yang biasa-biasa saja.
orang-orang yang hanya memberikan kesempatan pada mereka dengan hanya melihat hal-hal klise, yang membuat saya membenci diri sendiri dengan terus menerus mengulanginya: uang, kepopuleran, kecantikan dan ketampanan, keindahan fisik, kekuasaan ---- kesamaan kelas.
masih dengan orang-orang itu.
bosan bosan bosan.
bosan dengan orang-orang demikian yang saya temui seperti tak ada hentinya.
bosan dengan sirkumtansi yang menempatkan saya dengan jahatnya di antara orang-orang ,yang bagi saya, sebenarnya memprihatinkan.
bosan dengan ketidakadilan yang tertutupi pola pikir yang tidak bisa saya nalari, yang telah diasumsikan dengan terburu-buru sebagai adaptasi pada kejamnya kenyataan.
apa sih?
saya bosan! bosan! bosan! bosan! bosan!
kalian terlalu banyak tingkah!
ini seperti kebosanan yang saya curigai akan berakhir pada kebencian yang berakar pada kepatenan stereotip yang salah pada manusia-manusia, yang saya pertanyakan letak kesalahannya: akal budi atau hati nurani.
apa yang membuat mereka merasa jauh lebih baik dari yang mereka kucilkan?
uang?
mayatmu tak butuh uang. liangmu juga nanti akan membiarkan lembaran-lembaran itu busuk dengan dagingmu. abumu yang disebar di lautan juga ogah menampungnya. dan Tuhan-mu sudah terlalu kaya. jagat raya ini Dia yang miliki. sekali jenting pun kamu bisa terseok-seok sambil merengek mencari jalan ke Atas.
apa yang bisa kamu lakukan dengan uangmu?
menyuperioritaskan diri sendiri. dan teman-teman dari 'kelas'mu.
saya melihatmu sebagai orang yang menjijikkan. busuk busuk busuk!
dalam kepala saya terbersit wajah-wajah kalian, dengan penampilan super kece kalian, terbahak dan terkekeh sementara banyak penambang emas mati dalam penggalian belasan meter di bawah tanah untuk emas yang kalian jadikan penyolek "Hormati Aku, Si Orang Kaya", anak-anak kelaparan di belahan dunia yang lain ketika kalian membuang-buang pangan sekedar untuk menyusutkan perut, menjadi cantik lalu mengintimidasi kawan-kawan yang kalian labeli "ketinggalan jaman" karena tidak berpakaian beraksesoris ataupun tak bergadget sekeren kalian, orang-orang menjual ginjal di India untuk menghidupi diri sementara yang terpampang di pikiranku adalah wajah-wajah kalian, yang seolah lupa ada yang bisa begitu berbesar hati mengingat kata "Syukur" ketika saya sendiri melihat tak ada yang bisa mereka syukuri. syukur karena hidup? "Nasib terbaik adalah untuk tidak dilahirkan" nampak lebih cocok menjadi filsafah hidup mereka.
dan saya masih dijejeli ingatan tentang wajah-wajah kalian.
saya menjadi sangat sensitif belakangan ini.
dan saya geram.
dan kegeraman ini, mendadak bertambah parah ketika keinginan menjadi apatis semakin diinterupsi bukti-bukti menyakitkan mata yang semakin didekatkan pada hati yang menjadi terlanjur peka ini.
geram pada hal yang juga diteriakkan orang banyak namun tetap tidak mengubah apa-apa.
geram pada realita yang membuat tingkah kalian nampak sebagai hakikat dari eksistensi manusia.kita.
geram pada kesemena-menaan kalian, yang mengakunya ber-Tuhan.
kadang saya berpikir, mereka yang nampak tidak mengerti tentang hal-hal baik, barang sedikit (kemurahan hati, kemanusiaan, kebaikan, kasih sayang, keikhlasan, pengorbanan, keinginan untuk berbagi, kerendahan hati, kelapangan dada, keadilan, kejujuran, kebenaran) hanya sekedar punya agama, bukan ber-agama. kamu artikan sendiri maksud saya.
maka saya geram pada mereka yang mengecap jelek keagamaan karena umat punya-agama nya bertingkah seperti orang orang tidak waras. bahkan kawan saya yang ateis saja tahu caranya berbagi, tahu makna sesungguhnya persaudaraan, dan mampu dia terapkan secara nyata pada saya.
dan saya sampai pada momen ketika akhirnya geram pada diri saya sendiri.
yang hanya mampu bicara tentang hal yang salah ini tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
lalu akhirnya saya bosan pada orang-orang di sekitar saya, yang terlalu terbuai istilah: "think positive", yang membuatnya lebih memilih untuk bersenang-senang dan melakukan hal-hal yang menurut saya tak pantas untuk dilakukan terus menerus ketika sebenarnya mereka tahu ada bagian dari manusia ini yang perlu ditolong, untuk diperhatikan, untuk dijadikan kawan yang sebenarnya juga punya hak asasi untuk memperoleh kebahagiaan.
terkadang saya memilih untuk menyendiri. akhir akhir ini saya berpikir demikian.
atau setidaknya menemukan beberapa kepala yang bisa saya ajak berbincang tentang solusi, tentang hal nyata yang saya (atau kami, kita) sebenarnya mampu lakukan.
saya ingin mengambil bagian dalam upaya mencapai kebahagiaan mereka yang terlanjur dikucilkan.
pada saat ini ingin sekali saya katakan, "Aku besertamu orang-orang malang" (Gie)
saya jenuh. entah ini jenuh yang baik atau tidak.
bahkan saya jenuh dengan pola pandang orang-orang semacam mama.
sebuah iklan kemanusiaan di radio ibukota
narator iklan: tahukah kamu? harga sepasang sepatu bermerk seharga 200ribu, bisa membiayai sekolah anak SMP selama satu bulan.... tahukah kamu? harga cangkir kopi yang kalian beli di kafe bisa membiayai... kenapa tidak coba menghabiskan uang itu selama satu bulan untuk membiayai anak putus sekolah?
mama: kalo kayak gitu ya pengusaha kafe bangkrut dong! enggak ada yang beli kopi di kafenya!
pada saat itu saya meledak tentang betapa salahnya perkataan beliau, melihat dari persepsi yang berat sebelah tanpa mau menelaah pilahan prioritas, menghancurkan hati saya.
saya bilang itu hanya persoalan keseimbangan, tentang menikmati kesenanganmu dan bagaimana membaginya dengan orang lain yang terlalu "sial" nasibnya bahkan untuk melihat kesempatan tentang kebahagiaan pun belum pernah.
tentang bagaimana kamu ingin dihargai dan mereka pun ingin disadari keberadaannya.
dan mama membuat saya seperti orang dungu dengan pemikiran itu, ketika menjawabi saya dengan keheningan.
arogansi dari mereka yang terlanjur memiliki stereotip terhadap orang tak punya, orang miskin, orang yang kurang beruntung, mendiskriminasi mereka seolah kehadirannya tak pantas, telah memperparah mental-mental orang-orang kecil itu.
saya pernah dengar seorang pengamen sekitar 12tahun menyerapah "anj**g! k***ol! b****at!" ketika tak seorang penumpang pun memberinya uang, dan ketika itu saya semakin dibawa pada kenyataan tentang betapa parahnya kesalahan-kesalahan ini sudah berdampak.
seperti luka yang semakin jelek tampilannya. koreng-koreng kemanusiaan.
kepedulian yang somplak dari orang-orang yang mampu memberi.
etika dan moral yang keburu kering di orang-orang yang saya kasihani, yang saya pikir membuat mereka akhirnya pasrah jadi orang susah, menunggu pertolongan orang lain. lalu menyalahkan mereka yang tidak mau berbagi. manja.
dan saya semakin geram dalam kebingungan yang saya timbulkan sendiri,
tentang kesalahan-kesalahan yang kontinu, yang satu memperparah yang lain.
saya ingin melakukan sesuatu untuk setidaknya, mengurangi koreng koreng ini semakin parah mengakar.
saya butuh orang-orang baru di sekitar saya, yang bisa saya ajak berbagi tentang kegelisahan saya, tentang manusia-manusia, tentang dunia.
ah.
mungkin hanya sebatas perkara sederhana: jenuh saya. mungkin saja.
tapi koreng ini makin menyengat bau busuknya.
dan orang orang yang mengaku waras ini menjilatinya seperti sebuah kelaziman.
orang-orang yang hanya bicara dan berbangga atas kekayaannya, melakukan pembedaan terhadap mereka yang sesama manusia dengan memberikan sekat-sekat antara yang kaya dan yang kurang berada, yang eksis dan yang lebih dikucilkan, yang mampu menarik perhatian dengan wajahnya dan yang biasa-biasa saja.
orang-orang yang hanya memberikan kesempatan pada mereka dengan hanya melihat hal-hal klise, yang membuat saya membenci diri sendiri dengan terus menerus mengulanginya: uang, kepopuleran, kecantikan dan ketampanan, keindahan fisik, kekuasaan ---- kesamaan kelas.
masih dengan orang-orang itu.
bosan bosan bosan.
bosan dengan orang-orang demikian yang saya temui seperti tak ada hentinya.
bosan dengan sirkumtansi yang menempatkan saya dengan jahatnya di antara orang-orang ,yang bagi saya, sebenarnya memprihatinkan.
bosan dengan ketidakadilan yang tertutupi pola pikir yang tidak bisa saya nalari, yang telah diasumsikan dengan terburu-buru sebagai adaptasi pada kejamnya kenyataan.
apa sih?
saya bosan! bosan! bosan! bosan! bosan!
kalian terlalu banyak tingkah!
ini seperti kebosanan yang saya curigai akan berakhir pada kebencian yang berakar pada kepatenan stereotip yang salah pada manusia-manusia, yang saya pertanyakan letak kesalahannya: akal budi atau hati nurani.
apa yang membuat mereka merasa jauh lebih baik dari yang mereka kucilkan?
uang?
mayatmu tak butuh uang. liangmu juga nanti akan membiarkan lembaran-lembaran itu busuk dengan dagingmu. abumu yang disebar di lautan juga ogah menampungnya. dan Tuhan-mu sudah terlalu kaya. jagat raya ini Dia yang miliki. sekali jenting pun kamu bisa terseok-seok sambil merengek mencari jalan ke Atas.
apa yang bisa kamu lakukan dengan uangmu?
menyuperioritaskan diri sendiri. dan teman-teman dari 'kelas'mu.
saya melihatmu sebagai orang yang menjijikkan. busuk busuk busuk!
dalam kepala saya terbersit wajah-wajah kalian, dengan penampilan super kece kalian, terbahak dan terkekeh sementara banyak penambang emas mati dalam penggalian belasan meter di bawah tanah untuk emas yang kalian jadikan penyolek "Hormati Aku, Si Orang Kaya", anak-anak kelaparan di belahan dunia yang lain ketika kalian membuang-buang pangan sekedar untuk menyusutkan perut, menjadi cantik lalu mengintimidasi kawan-kawan yang kalian labeli "ketinggalan jaman" karena tidak berpakaian beraksesoris ataupun tak bergadget sekeren kalian, orang-orang menjual ginjal di India untuk menghidupi diri sementara yang terpampang di pikiranku adalah wajah-wajah kalian, yang seolah lupa ada yang bisa begitu berbesar hati mengingat kata "Syukur" ketika saya sendiri melihat tak ada yang bisa mereka syukuri. syukur karena hidup? "Nasib terbaik adalah untuk tidak dilahirkan" nampak lebih cocok menjadi filsafah hidup mereka.
dan saya masih dijejeli ingatan tentang wajah-wajah kalian.
saya menjadi sangat sensitif belakangan ini.
dan saya geram.
dan kegeraman ini, mendadak bertambah parah ketika keinginan menjadi apatis semakin diinterupsi bukti-bukti menyakitkan mata yang semakin didekatkan pada hati yang menjadi terlanjur peka ini.
geram pada hal yang juga diteriakkan orang banyak namun tetap tidak mengubah apa-apa.
geram pada realita yang membuat tingkah kalian nampak sebagai hakikat dari eksistensi manusia.kita.
geram pada kesemena-menaan kalian, yang mengakunya ber-Tuhan.
kadang saya berpikir, mereka yang nampak tidak mengerti tentang hal-hal baik, barang sedikit (kemurahan hati, kemanusiaan, kebaikan, kasih sayang, keikhlasan, pengorbanan, keinginan untuk berbagi, kerendahan hati, kelapangan dada, keadilan, kejujuran, kebenaran) hanya sekedar punya agama, bukan ber-agama. kamu artikan sendiri maksud saya.
maka saya geram pada mereka yang mengecap jelek keagamaan karena umat punya-agama nya bertingkah seperti orang orang tidak waras. bahkan kawan saya yang ateis saja tahu caranya berbagi, tahu makna sesungguhnya persaudaraan, dan mampu dia terapkan secara nyata pada saya.
dan saya sampai pada momen ketika akhirnya geram pada diri saya sendiri.
yang hanya mampu bicara tentang hal yang salah ini tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
lalu akhirnya saya bosan pada orang-orang di sekitar saya, yang terlalu terbuai istilah: "think positive", yang membuatnya lebih memilih untuk bersenang-senang dan melakukan hal-hal yang menurut saya tak pantas untuk dilakukan terus menerus ketika sebenarnya mereka tahu ada bagian dari manusia ini yang perlu ditolong, untuk diperhatikan, untuk dijadikan kawan yang sebenarnya juga punya hak asasi untuk memperoleh kebahagiaan.
terkadang saya memilih untuk menyendiri. akhir akhir ini saya berpikir demikian.
atau setidaknya menemukan beberapa kepala yang bisa saya ajak berbincang tentang solusi, tentang hal nyata yang saya (atau kami, kita) sebenarnya mampu lakukan.
saya ingin mengambil bagian dalam upaya mencapai kebahagiaan mereka yang terlanjur dikucilkan.
pada saat ini ingin sekali saya katakan, "Aku besertamu orang-orang malang" (Gie)
saya jenuh. entah ini jenuh yang baik atau tidak.
bahkan saya jenuh dengan pola pandang orang-orang semacam mama.
sebuah iklan kemanusiaan di radio ibukota
narator iklan: tahukah kamu? harga sepasang sepatu bermerk seharga 200ribu, bisa membiayai sekolah anak SMP selama satu bulan.... tahukah kamu? harga cangkir kopi yang kalian beli di kafe bisa membiayai... kenapa tidak coba menghabiskan uang itu selama satu bulan untuk membiayai anak putus sekolah?
mama: kalo kayak gitu ya pengusaha kafe bangkrut dong! enggak ada yang beli kopi di kafenya!
pada saat itu saya meledak tentang betapa salahnya perkataan beliau, melihat dari persepsi yang berat sebelah tanpa mau menelaah pilahan prioritas, menghancurkan hati saya.
saya bilang itu hanya persoalan keseimbangan, tentang menikmati kesenanganmu dan bagaimana membaginya dengan orang lain yang terlalu "sial" nasibnya bahkan untuk melihat kesempatan tentang kebahagiaan pun belum pernah.
tentang bagaimana kamu ingin dihargai dan mereka pun ingin disadari keberadaannya.
dan mama membuat saya seperti orang dungu dengan pemikiran itu, ketika menjawabi saya dengan keheningan.
arogansi dari mereka yang terlanjur memiliki stereotip terhadap orang tak punya, orang miskin, orang yang kurang beruntung, mendiskriminasi mereka seolah kehadirannya tak pantas, telah memperparah mental-mental orang-orang kecil itu.
saya pernah dengar seorang pengamen sekitar 12tahun menyerapah "anj**g! k***ol! b****at!" ketika tak seorang penumpang pun memberinya uang, dan ketika itu saya semakin dibawa pada kenyataan tentang betapa parahnya kesalahan-kesalahan ini sudah berdampak.
seperti luka yang semakin jelek tampilannya. koreng-koreng kemanusiaan.
kepedulian yang somplak dari orang-orang yang mampu memberi.
etika dan moral yang keburu kering di orang-orang yang saya kasihani, yang saya pikir membuat mereka akhirnya pasrah jadi orang susah, menunggu pertolongan orang lain. lalu menyalahkan mereka yang tidak mau berbagi. manja.
dan saya semakin geram dalam kebingungan yang saya timbulkan sendiri,
tentang kesalahan-kesalahan yang kontinu, yang satu memperparah yang lain.
saya ingin melakukan sesuatu untuk setidaknya, mengurangi koreng koreng ini semakin parah mengakar.
saya butuh orang-orang baru di sekitar saya, yang bisa saya ajak berbagi tentang kegelisahan saya, tentang manusia-manusia, tentang dunia.
ah.
mungkin hanya sebatas perkara sederhana: jenuh saya. mungkin saja.
tapi koreng ini makin menyengat bau busuknya.
dan orang orang yang mengaku waras ini menjilatinya seperti sebuah kelaziman.
there's something else i am afraid of besides commitment:
to grow up; of getting old.
the burdens that follow which scare me the most.
kadang saya bertanya-tanya bagaimana orang dewasa di sekitar saya menyikapi pelipatan usia yang daripadanya, kita tidak bisa melarikan diri;
bertanya-tanya bagaimana mereka menyikapi keharusan untuk menjadi dewasa dalam kematangan usia yang membuntuti titik ukur tingkah lakunya;
bagaimana mereka melupakan keresahan dirinya sendiri dalam menebaskan estimasi terhadap kekanakan yang saya yakin mereka rindukan.
bagaimana akan mereka jawab kebingungan saya? toh saya pikir juga mereka linglung sendiri memaknai kedewasaan itu sendiri.
tahu banyak dan berarti selalu jadi yang terpintar?menjadi bijak dan berarti selalu menjadi benar?
banyak yang "tua", atau setidaknya hadir sebagai sosok yang di-tua-kan, ingin membaur malah terlalu asyik melenceng dan lupa diri: bertingkah seperti anak kecil, yang ketika direntangkan lagi usianya, malah membuatnya jadi bahan cemooh.
banyak bertingkah dan berbicara tanpa menunjukkan kemampuannya untuk berbuat.
bicara tentang profesionalisme tapi terjungkal juga dalam keangkuhannya sendiri.
membagi pengetahuan tapi lupa kesamarataan hak yang dimiliki setiap orang untuk menerima ilmu.
berbagi dengan kasih tapi lupa kalau cinta bukan cuma sekedar eros (atau mungkin sengaja dilupakan, ya, cinta universal itu ada?)
mengaku membangun kebersamaan, tapi toh saya kuak juga akal-akalanmu.
alibi alibi.
di mata saya, mereka memalukan.
saya pikir orang dewasa yang demikianlah yang patut dikasihani atas masa mudanya , dan masa kininya:
saya pikir mereka lupa mengisi keremajaannya untuk belajar tentang kedewasaan, lupa menicicil beban kedewasaan pada kemudaannya;
lalu pada masa kininya, ketika kedewasaannya dituntut untuk berperan dominan (baik dalam hidupnya sendiri ataupun hidup para muridnya), malah tidak bisa memprioritaskan kesenangan, kebutuhan, dan kewajiban.
kamu pikir saya menjijikkan?
berkacalah.
saya sudah terbiasa menjadi sinis pada orang yang besar kepala hanya karena penampilan dan status sosial, yang hanya menjadi sok dengan bersandar pada hal-hal yang over-temporary, yang bagi saya rendah harganya, terlebih pada yang menitikberatkan perhatian pada lawan jenis dengan kriteria tertentu.
hubungi kontak jodoh jika pasangan hidup yang kamu cari.
saya, oh, kami, membutuhkan tenaga pengajar, bukan orang yang gemar menimbulkan iri hati.
meski saya ragu, apakah kamu tahu Soe Hok Gie, saya tetap ingin menyampaikan omongannya tentang orang-orang seperti kamu (kalian):
"Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau."
saya bukan kerbau. kawan-kawan saya yang tidak kalian hiraukan juga bukan kerbau.
to grow up; of getting old.
the burdens that follow which scare me the most.
kadang saya bertanya-tanya bagaimana orang dewasa di sekitar saya menyikapi pelipatan usia yang daripadanya, kita tidak bisa melarikan diri;
bertanya-tanya bagaimana mereka menyikapi keharusan untuk menjadi dewasa dalam kematangan usia yang membuntuti titik ukur tingkah lakunya;
bagaimana mereka melupakan keresahan dirinya sendiri dalam menebaskan estimasi terhadap kekanakan yang saya yakin mereka rindukan.
bagaimana akan mereka jawab kebingungan saya? toh saya pikir juga mereka linglung sendiri memaknai kedewasaan itu sendiri.
tahu banyak dan berarti selalu jadi yang terpintar?menjadi bijak dan berarti selalu menjadi benar?
banyak yang "tua", atau setidaknya hadir sebagai sosok yang di-tua-kan, ingin membaur malah terlalu asyik melenceng dan lupa diri: bertingkah seperti anak kecil, yang ketika direntangkan lagi usianya, malah membuatnya jadi bahan cemooh.
banyak bertingkah dan berbicara tanpa menunjukkan kemampuannya untuk berbuat.
bicara tentang profesionalisme tapi terjungkal juga dalam keangkuhannya sendiri.
membagi pengetahuan tapi lupa kesamarataan hak yang dimiliki setiap orang untuk menerima ilmu.
berbagi dengan kasih tapi lupa kalau cinta bukan cuma sekedar eros (atau mungkin sengaja dilupakan, ya, cinta universal itu ada?)
mengaku membangun kebersamaan, tapi toh saya kuak juga akal-akalanmu.
alibi alibi.
di mata saya, mereka memalukan.
saya pikir orang dewasa yang demikianlah yang patut dikasihani atas masa mudanya , dan masa kininya:
saya pikir mereka lupa mengisi keremajaannya untuk belajar tentang kedewasaan, lupa menicicil beban kedewasaan pada kemudaannya;
lalu pada masa kininya, ketika kedewasaannya dituntut untuk berperan dominan (baik dalam hidupnya sendiri ataupun hidup para muridnya), malah tidak bisa memprioritaskan kesenangan, kebutuhan, dan kewajiban.
kamu pikir saya menjijikkan?
berkacalah.
saya sudah terbiasa menjadi sinis pada orang yang besar kepala hanya karena penampilan dan status sosial, yang hanya menjadi sok dengan bersandar pada hal-hal yang over-temporary, yang bagi saya rendah harganya, terlebih pada yang menitikberatkan perhatian pada lawan jenis dengan kriteria tertentu.
hubungi kontak jodoh jika pasangan hidup yang kamu cari.
saya, oh, kami, membutuhkan tenaga pengajar, bukan orang yang gemar menimbulkan iri hati.
meski saya ragu, apakah kamu tahu Soe Hok Gie, saya tetap ingin menyampaikan omongannya tentang orang-orang seperti kamu (kalian):
"Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau."
saya bukan kerbau. kawan-kawan saya yang tidak kalian hiraukan juga bukan kerbau.
Ada orang yang sedang di dalam perjalanan; tiba-tiba muncul orang jahat mencegatnya. Dirampaslah hartanya, disakiti badannya, ia pun terkaparlah di jalan yang lengang.
Imam dari suku Lewi lewat dan melihat ada orang yang sengsara dan perlu dirawat. Apa yang dibuatnya bagi kawan senegri? Pura-pura tidak tahu dan terus pergi.Ada orang asing dari tanah Samaria, yang melihat dia, hatinya merasa iba; luka dibersihkannya dan dibalut segera. orang Samaria, itulah sesamanya!Aku mau menjadi seperti si Samaria, akulah sesama bagi orang menderita, bagi orang yang sedih, kawa maupun lawanku.
Itulah perintah Tuhan Yesus Penebus.(Puji Syukur No.701, perikop: Lukas 10:25-37, Perumpamaan tentang Samaria yang baik hati, tentang persaudaraan, tentang sesama, tentang kemurahan hati, kebaikan; penghargaan akan kehidupan dan kehadiran orang lain.)
Bagaimana? Kita meng-Samaria-kan orang lain dengan latar sejarah mereka, sebagaimana Yahudi membenci mereka* atas penajisan yang dilakukan atas Bait Allah pada tahun 9 dan 6 SM untuk mencegah Yahudi merayakan Paskah, dengan menyebarkan tulang-tulang manusia ke dalamnya.
saya juga sebenarnya merasa seperti manusia yang begitu; menggunakan stigma-stigma yang demikian untuk menilai.
Terkadang saya berpikir bahwa manusia memang memiliki pembawaan untuk menjadikan jumlah kesalahan sebagai patokan untuk memberi harga, bukan jumlah hal yang benar; meeksagerasi kekeliruan yang sederhana, menutup-nutupi ada baik yang berhak diingat;
pernah sekali waktu saya menduga bahwa manusia memang pada dasarnya gemar membeda-bedakan (yang saya spekulasi sebagai upaya untuk 'meninggikan' diri sendiri, mengkategorikan diri sendiri sebagai yang lebih baik dengan mengestimasi yang 'beda' sebagai yang buruk).
Itulah mengapa secara pribadi saya memandang stereotype sebagai sesuatu yang destructive:
ia menyamarkan kebaikan.
Ketika Einstein mengatakan bahwa "Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan", saya merasa dibawa untuk mendefinisikannya sebagai ajakan untuk menumbuhkan kebaikan dengan menghadirkan Tuhan, melihat semua orang sebagai sesama. lupakan stereotype. kita semua sama dalam hak dicintai.
Bagaimana kamu menjadi saudara? Dengan cinta kasih.Bagaimana mengasihi? Dengan menghargai.(Romo Ari, homili Minggu Juli 11,2010)
Jadi memang demikian kan Dia menjawab pertanyaan saya tentang kebenaran dan kebaikan:
dengan menkonspirasikan kebetulan-kebetulan, menyatakan ke-nyata-an-Nya dengan kenyataan.
Saya mulai mengkonsepsikan "kemanusiaan" dan "ke-manusia-an" sebagai sebuah perbedaan dengan melihat bagaimana dunia bertumbuh.
Kemanusiaan sebagai idealisme tentang kebaikan, kemoralan; tentang piety, virtues.
Ke-manusia-an lebih condong terlihat sebagai sebuah realisme keduniaan yang tidak menyisipkan ketuhanan.
Mungkin saya akan terdengar naif dengan mempertanyakan otentiknya pernyataan "hell is empty and all the devils are here" (Shakespeare).
Apakah semua iblis ada di sini? Kesemuanya?
Dengan menyampingkan kemungkinan terhubungkannya pernyataan tersebut dengan premis "Semuanya di sini adalah iblis", saya pikir masih ada "jahat" yang masih tersisa di tempat mereka seharusnya ada. bukan di dunia ini, maksud saya.
Ketika Elizabeth Kostova dalam The Historian mengatakan, "Sejarah telah mengajari kita bahwa sifat alamiah manusia adalah jahat, dan kebaikan tak bisa sempurna tapi kejahatan bisa*,"
dan Soe Hok Gie menyatakan bahwa "Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?" yang secara gamblang mengidentikkan ke-manusia-an dengan ketidakmanusiaan , secara pribadi saya secara teguh percaya masih banyak manusia-manusia yang termalaikatkan (atau setidaknya berusaha untuk memalaikatkan diri, tanpa usaha untuk meninggikan diri, namun lebih pada keinginan untuk menempatkan manusia dalam ke-manusia-an yang lekat dengan kemanusiaan)
*)History has taught us that the nature of man is evil, sublimely so. Good is not perfectible, but evil is. (Elizabeth Kostova, The Historian, 2005)
Ada hasrat akan kemanusiaan yang utuh di balik distingsinya yang saya katakan sebelumnya.
Saya memiliki keyakinan bahwa ada kemanusiaan yang tersisa dalam ke-manusia-an.
Saya percaya masih ada "kita" yang sedang sama-sama bermimpi tentang dunia yang lebih baik, tentang bangsa yang bermoral, tentang masyarakat yang lebih maju.
Kita sama-sama menyusun konsep tentang "membangun" dunia, sama-sama membagi ide-ide tentang "kebaikan" dalam komunitas manusia kita.
namun rasanya selalu ada yang menebaskan keyakinan yang seperti itu, sebuah argumen yang membalikkan pemikiran akan pengharapan, seperti fakta yang nampak lebih tegas dalam menyuarakan diri:
konsep adalah konsep.
ketika saya meyakini bahwa secara nyata konsep-konsep yang demikian cerdasnya telah menyebarkan diri dalam keseharian, saya pikir saya akan melihat dunia yang berubah, atau setidaknya merasa bahwa saya sedang berada dalam momen pergerakan dunia ke arah visi tersebut, saya malah semakin melihat bagaimana dunia seperti terlanjur tenggelam dalam stagnansi.
apa yang salah?
banyak orang-orang yang punya nama dan integritas untuk membangun bangsa, menyusun kembali potongan-potongan membanggakan dari masa lalu tentang kejayaan dan kredibilitas.
banyak orang-orang yang banyak meninggalkan fanatisme akan suatu kepercayaan dan golongan untuk melihat sesamanya sepenuhnya sebagai manusia, dengan melepaskan label-label akan ras, suku, agama.
namun saya masih belum melihat dampak yang signifikan.
mungkin saya yang terlalu apatis untuk mencari perubahan yang mulai meniti keberhasilannya. possibly.
tau gak?
kadang saya berpikir bahwa perbedaan rasio antara orang-orang inilah yang membawa masalah.
berapa besar rasio perbandingan orang yang lebih mengutamakan konsep kemanusiaan dengan mereka yang lebih suka memanusiakan orang lain dengan tidak manusiawi?
berapa rasio perbandingan orang yang menyempatkan waktu memikirkan adanya kemirisan yang muncul dari tindak ketidakmanusiaan lalu memikirkan konsep tentang perubahaan-perubahaan yang memungkinkan manusia hidup dalam ketenangan, dengan yang lebih peduli mengurusi bagaimana memanusiakan dirinya sendiri dalam pemenuhan kebutuhannya?
atau pertanyaan yang lebih sesuai:
berapa rasio perbandingan orang yang telah brilian memikirkan konsep tentang dunia yang lebih hidup dalam kebaikan (dalam kebaikan yang obyektif, dengan berprinsip pada moral, hati nurani, nalar) benar-benar memberlakukan konsep tersebut, dibanding dengan mereka yang memikirkan konsep untuk membangun ketidakmanusiaan dan telah bergerak untuk mewujudkan keegoisannya?
quality isn't always about numbers, jadi sepertinya sesuatu yang banyak belum tentu bisa mengalahkan sesuatu yang memiliki proporsi lebih besar dalam memberi dampak pada kenyataan.
tentang memikirkan lalu melakukan.
mungkin itu yang sulit untuk dicapai.
seperti sebuah diskusi kecil dengan seorang teman yang mempertanyakan keadilan atas nasib para veteran, saya kira ia juga sama dengan golongan mereka yang tahu tentang hakikat keadilan dan kemanusiaan, mampu memikirkan konsep untuk perbaikan, namun potensinya hanya sekedar potensi.
saya merasa juga merupakan orang yang demikian. banyak berteori, banyak memikirkan konsep, namun tidak juga bergerak. baru saya sadari dalam diskusi tersebut, secara tiba-tiba pemikiran saya menyentil diri sendiri:
i think the main problem of this situation is: most people just get busy drawing concept of the main aims in their heads, but forget to draw the concept of Start line, don't they? (oh, don't we?)
tahukah apa yang Confucius katakan tentang ini?
"To know what is right and not to do it is the worst cowardice."
Ah.
Kemanusiaan sebagai idealisme tentang kebaikan, kemoralan; tentang piety, virtues.
Ke-manusia-an lebih condong terlihat sebagai sebuah realisme keduniaan yang tidak menyisipkan ketuhanan.
Mungkin saya akan terdengar naif dengan mempertanyakan otentiknya pernyataan "hell is empty and all the devils are here" (Shakespeare).
Apakah semua iblis ada di sini? Kesemuanya?
Dengan menyampingkan kemungkinan terhubungkannya pernyataan tersebut dengan premis "Semuanya di sini adalah iblis", saya pikir masih ada "jahat" yang masih tersisa di tempat mereka seharusnya ada. bukan di dunia ini, maksud saya.
Ketika Elizabeth Kostova dalam The Historian mengatakan, "Sejarah telah mengajari kita bahwa sifat alamiah manusia adalah jahat, dan kebaikan tak bisa sempurna tapi kejahatan bisa*,"
dan Soe Hok Gie menyatakan bahwa "Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?" yang secara gamblang mengidentikkan ke-manusia-an dengan ketidakmanusiaan , secara pribadi saya secara teguh percaya masih banyak manusia-manusia yang termalaikatkan (atau setidaknya berusaha untuk memalaikatkan diri, tanpa usaha untuk meninggikan diri, namun lebih pada keinginan untuk menempatkan manusia dalam ke-manusia-an yang lekat dengan kemanusiaan)
*)History has taught us that the nature of man is evil, sublimely so. Good is not perfectible, but evil is. (Elizabeth Kostova, The Historian, 2005)
Ada hasrat akan kemanusiaan yang utuh di balik distingsinya yang saya katakan sebelumnya.
Saya memiliki keyakinan bahwa ada kemanusiaan yang tersisa dalam ke-manusia-an.
Saya percaya masih ada "kita" yang sedang sama-sama bermimpi tentang dunia yang lebih baik, tentang bangsa yang bermoral, tentang masyarakat yang lebih maju.
Kita sama-sama menyusun konsep tentang "membangun" dunia, sama-sama membagi ide-ide tentang "kebaikan" dalam komunitas manusia kita.
namun rasanya selalu ada yang menebaskan keyakinan yang seperti itu, sebuah argumen yang membalikkan pemikiran akan pengharapan, seperti fakta yang nampak lebih tegas dalam menyuarakan diri:
konsep adalah konsep.
ketika saya meyakini bahwa secara nyata konsep-konsep yang demikian cerdasnya telah menyebarkan diri dalam keseharian, saya pikir saya akan melihat dunia yang berubah, atau setidaknya merasa bahwa saya sedang berada dalam momen pergerakan dunia ke arah visi tersebut, saya malah semakin melihat bagaimana dunia seperti terlanjur tenggelam dalam stagnansi.
apa yang salah?
banyak orang-orang yang punya nama dan integritas untuk membangun bangsa, menyusun kembali potongan-potongan membanggakan dari masa lalu tentang kejayaan dan kredibilitas.
banyak orang-orang yang banyak meninggalkan fanatisme akan suatu kepercayaan dan golongan untuk melihat sesamanya sepenuhnya sebagai manusia, dengan melepaskan label-label akan ras, suku, agama.
namun saya masih belum melihat dampak yang signifikan.
mungkin saya yang terlalu apatis untuk mencari perubahan yang mulai meniti keberhasilannya. possibly.
tau gak?
kadang saya berpikir bahwa perbedaan rasio antara orang-orang inilah yang membawa masalah.
berapa besar rasio perbandingan orang yang lebih mengutamakan konsep kemanusiaan dengan mereka yang lebih suka memanusiakan orang lain dengan tidak manusiawi?
berapa rasio perbandingan orang yang menyempatkan waktu memikirkan adanya kemirisan yang muncul dari tindak ketidakmanusiaan lalu memikirkan konsep tentang perubahaan-perubahaan yang memungkinkan manusia hidup dalam ketenangan, dengan yang lebih peduli mengurusi bagaimana memanusiakan dirinya sendiri dalam pemenuhan kebutuhannya?
atau pertanyaan yang lebih sesuai:
berapa rasio perbandingan orang yang telah brilian memikirkan konsep tentang dunia yang lebih hidup dalam kebaikan (dalam kebaikan yang obyektif, dengan berprinsip pada moral, hati nurani, nalar) benar-benar memberlakukan konsep tersebut, dibanding dengan mereka yang memikirkan konsep untuk membangun ketidakmanusiaan dan telah bergerak untuk mewujudkan keegoisannya?
quality isn't always about numbers, jadi sepertinya sesuatu yang banyak belum tentu bisa mengalahkan sesuatu yang memiliki proporsi lebih besar dalam memberi dampak pada kenyataan.
tentang memikirkan lalu melakukan.
mungkin itu yang sulit untuk dicapai.
seperti sebuah diskusi kecil dengan seorang teman yang mempertanyakan keadilan atas nasib para veteran, saya kira ia juga sama dengan golongan mereka yang tahu tentang hakikat keadilan dan kemanusiaan, mampu memikirkan konsep untuk perbaikan, namun potensinya hanya sekedar potensi.
saya merasa juga merupakan orang yang demikian. banyak berteori, banyak memikirkan konsep, namun tidak juga bergerak. baru saya sadari dalam diskusi tersebut, secara tiba-tiba pemikiran saya menyentil diri sendiri:
i think the main problem of this situation is: most people just get busy drawing concept of the main aims in their heads, but forget to draw the concept of Start line, don't they? (oh, don't we?)
tahukah apa yang Confucius katakan tentang ini?
"To know what is right and not to do it is the worst cowardice."
Ah.
Saya mimpi tentang sebuah dunia, dimana ulama dan buruh dan pemuda,
bangkit dan berkata:
stop semua kemunafikan! stop semua pembunuhan atas nama apa pun!
Dan para politisi di PBB sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu, dan beras, buat anak-anak yang lapar di tiga benua,
dan lupa akan diplomasi.
Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun.
Dan melupakan perang dan kebencian dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Tuhan, saya mimpi tentang dunia tadi.
(Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie)
bangkit dan berkata:
stop semua kemunafikan! stop semua pembunuhan atas nama apa pun!
Dan para politisi di PBB sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu, dan beras, buat anak-anak yang lapar di tiga benua,
dan lupa akan diplomasi.
Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun.
Dan melupakan perang dan kebencian dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Tuhan, saya mimpi tentang dunia tadi.
(Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie)
Kembali tentang orang-orang yang membosankan. (Atau saya yang terlalu menyebalkan belakangan ini?)
Twitter, obviously, telah menjangkiti saya sedemikian kuatnya~ yang enggan saya tambahkan apakah itu baik atau tidak.
Beberapa orang telah dengan luar biasanya menginspirasi saya dengan tweet-tweet mereka, sementara yang lainnya, mengisi timeline saya dengan hal-hal yang membuat saya terus-menerus mempertimbangkan keputusan untuk meng-unfollow mereka.
Ini yang menjadi pertanyaan saya:
1. Kenapa harus mengumpat dan mengeluh di Twitter / Facebook / media sosial lainnya?
2.Apa memang media-media sosial tersebut dimaksudkan untuk menjadi sarana me-release emosi -secara gamblang dan blak-blakan?
3. Apa yang mereka pikirkan ketika mengepost hal-hal yang bersifat pribadi (secara emosional), yang sebenarnya secara tidak langsung akan membawa spekulasi-spekulasi yang cenderung negatif dari orang yang membaca?
4. Apa mereka bahkan menyempatkan diri untuk menelaah apa yang mereka post pada khayalak?
Saya bosan dengan orang-orang yang demikian.
Banyak mengeluh tentang kesibukan mereka, memberikan komplain atas hal-hal tidak mengenakkan yang menimpa mereka, banyak mengoceh tentang betapa tidak menyenangkan segala kegiatan dan kewajiban mereka, juga tentang hal-hal yang jauh bersifat personal yang tidak seharusnya ditampilkan untuk umum, seperti percakapan-percakapan harian yang sebenarnya bisa dilakukan lewat sms, messenger, atau apapun yang tidak menganggu para followers mereka. Tak jarang juga kata-kata kasar keluar sebagai luapan emosi.
Hah. Mereka pikir yang membaca tweet hanya mereka sendiri? Mereka pikir tidak mungkin orang lain akan memberikan cap jelek pada mereka? belum lagi banyak dari mereka yang difollow oleh orang-orang asing yang memang tidak mengenal mereka secara pribadi, yang cenderung menilai mereka dengan apa yang mereka katakan di tweet.
Jika memang marah-marah di Twitter menjadi pilihan, apa memang itu akan mengubah sesuatu?
Katakanlah mereka menjawab tidak, lalu mengapa tetap memilih untuk mengumpat dan meluapkan kekesalan di timeline?
Melepas emosi? Memberikan kelegaan?
Jika memang demikian, mengapa ketika orang-orang mulai gerah dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memfollow mereka, kenapa mereka harus kesal dengan fakta berkurangnya followers?
Mengapa orang-orang semakin lucu saja sih?
People should just try to always give values to their tweets, sesederhana apa pun tweet mereka, dalam keadaan semarah apapun. It ain't easy, yes i know. Tapi setidaknya ketika mereka bisa menyadari bahwa mereka tipikal yang tidak bisa menahan diri untuk mengumpat, bisa coba menjauhkan diri dari Twitter. Kecuali, ya, kecuali, mereka sudah bisa tahu konsekuensinya dengan mengumpat: di-unfollow, atau tetap di-follow tapi dibenci secara diam-diam. Opsi kedua yang menurut saya tidak menyenangkan.
You know, ketika mereka menyadari bahwa ada orang yang menginsipirasi lewat timeline mereka, kecil sekali kemungkinan untuk meng-unfollow. They don't unfollow, you don't hate. Twitter would be like what it's actually supposed to be.
Beberapa hari ini, beberapa teman yang saya follow mulai mengisi timeline dengan kemarahan.
Dan kalau saya hanya bicara di sini, toh, sama saja saya menelan ludah sendiri. Sudah saya sampaikan tweet mereka tidak akan mengubah apapun unless mereka memention orang yang mereka benci (jika berkaitan dengan suatu pribadi). Atau setidaknya, mereka memiliki inisiatif untuk melakukan perubahan setelah mengoceh di Twitter (ketika mengeluh tentang suatu keadaan)
Tapi sepertinya, sama singkatnya dalam "memikirkan" luapan mereka, apa yang saya sampaikan juga sekedar berbunyi sebentar lalu dilupakan.
Saya sering mencoba cara yang kurang etis, menyindir. Beberapa akhirnya "sadar diri" lalu minta maaf, yang lainnya tidak tergugah (atau pura-pura tidak merasa)
Omong-omong, permintaan maaf tidak saya butuhkan. Dirimu sendiri yang harusnya diberikan permintaan maaf karena telah dilabeli dengan "kenegatifan" kata-katamu.
Hahaha.
Apakah saya sendiri memang sebijaksana itu dengan mengkritik mereka seperti ini?
Saya pernah marah, saya pernah mengumpat dan mengutuk-ngutuki seorang yang telah sedemikiannya menganggu hidup saya tanpa me-mentionnya.
Ketika saya baca kembali, saya seolah tidak mengenal si empunya tweet tersebut. Saya malu pada diri sendiri.
Jadi saya pikir, setiap orang sekarang (dengan menyadari bagaimana krusialnya peran tweet dalam penilaian terhadap diri sendiri tersebut) harus bisa menjadi kritis dalam hal yang ingin ia sampaikan.
"Words are more treacherous and powerful than we think" kata Sartre.
Saya jadi ingat seorang teman yang pernah mengatakan bahwa saya termasuk "anak DKV yang jarang banget ngeluh soal tugas di Twitter."
mungkin dengan mengetahui fakta adanya dosen yang kebetulan memfollow balik saya, bisa ia jadikan sebagai alasan utama;
tapi jauh sebelum beliau menjadi follower saya pun, saya berusaha menjadi seorang mahasiswa yang.... sepenuhnya mahasiswa.
Maksud saya di sini,
saya hanya ingin mendalami siapa saya sekarang? Mahasiswa. Mahasiswa desain.
Apa pendapat orang jika mengetahui para mahasiswa desain sekarang hanya bisa mengeluh di Twitter? Hanya bisa melakukan kecurangan untuk beberapa tugas? Lebih suka mengumpat-umpat daripada mengerjakan proyek?
Nama "mahasiswa desain" memang bisa tercoreng, seolah menyatakan secara tidak langsung bahwa mahasiswa desain sekarang tidak lagi profesional, mudah mengeluh untuk proyek di tahun-tahun awal, atau bahkan menyindir-nyindir dosen yang dibenci dengan tidak sopan.
Saya terbiasa memposisikan dosen sebagai "klien", mengikuti dan mempelajari bagaimana mereka "menilai" pekerjaan saya, jadi ketika akhirnya tweet dijadikan para mahasiswa desain (ya, teman-teman saya) sebagai sarana mencaci maki hakikat mereka sebagai mahasiswa (dengan tugas-tugasnya) apalagi mahasiswa desain (dengan tanggung jawab untuk mempertahankan integritas dirinya sendiri).. Saya lebih memilih untuk tidak memperparah kemungkinan terlabelinya kita dengan salah, dengan negatif.
Siapa yang bisa tahu siapa yang benar-benar membaca Timeline kita?
Saya suka perkataan Pandji (@Pandji), benar-benar inti dari celoteh saya kali ini,
"Tweet like everyone in this world is following you. Tweet with a conscious mind."
I wonder how nice life would be if just everyone tried to always keep trying to learn, to figure out the real essence of the existence of things. I'm tired of giving excuses. I am human. I can get annoyed too.
If just only.
If. Just.
Twitter, obviously, telah menjangkiti saya sedemikian kuatnya~ yang enggan saya tambahkan apakah itu baik atau tidak.
Beberapa orang telah dengan luar biasanya menginspirasi saya dengan tweet-tweet mereka, sementara yang lainnya, mengisi timeline saya dengan hal-hal yang membuat saya terus-menerus mempertimbangkan keputusan untuk meng-unfollow mereka.
Ini yang menjadi pertanyaan saya:
1. Kenapa harus mengumpat dan mengeluh di Twitter / Facebook / media sosial lainnya?
2.Apa memang media-media sosial tersebut dimaksudkan untuk menjadi sarana me-release emosi -secara gamblang dan blak-blakan?
3. Apa yang mereka pikirkan ketika mengepost hal-hal yang bersifat pribadi (secara emosional), yang sebenarnya secara tidak langsung akan membawa spekulasi-spekulasi yang cenderung negatif dari orang yang membaca?
4. Apa mereka bahkan menyempatkan diri untuk menelaah apa yang mereka post pada khayalak?
Saya bosan dengan orang-orang yang demikian.
Banyak mengeluh tentang kesibukan mereka, memberikan komplain atas hal-hal tidak mengenakkan yang menimpa mereka, banyak mengoceh tentang betapa tidak menyenangkan segala kegiatan dan kewajiban mereka, juga tentang hal-hal yang jauh bersifat personal yang tidak seharusnya ditampilkan untuk umum, seperti percakapan-percakapan harian yang sebenarnya bisa dilakukan lewat sms, messenger, atau apapun yang tidak menganggu para followers mereka. Tak jarang juga kata-kata kasar keluar sebagai luapan emosi.
Hah. Mereka pikir yang membaca tweet hanya mereka sendiri? Mereka pikir tidak mungkin orang lain akan memberikan cap jelek pada mereka? belum lagi banyak dari mereka yang difollow oleh orang-orang asing yang memang tidak mengenal mereka secara pribadi, yang cenderung menilai mereka dengan apa yang mereka katakan di tweet.
Jika memang marah-marah di Twitter menjadi pilihan, apa memang itu akan mengubah sesuatu?
Katakanlah mereka menjawab tidak, lalu mengapa tetap memilih untuk mengumpat dan meluapkan kekesalan di timeline?
Melepas emosi? Memberikan kelegaan?
Jika memang demikian, mengapa ketika orang-orang mulai gerah dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memfollow mereka, kenapa mereka harus kesal dengan fakta berkurangnya followers?
Mengapa orang-orang semakin lucu saja sih?
People should just try to always give values to their tweets, sesederhana apa pun tweet mereka, dalam keadaan semarah apapun. It ain't easy, yes i know. Tapi setidaknya ketika mereka bisa menyadari bahwa mereka tipikal yang tidak bisa menahan diri untuk mengumpat, bisa coba menjauhkan diri dari Twitter. Kecuali, ya, kecuali, mereka sudah bisa tahu konsekuensinya dengan mengumpat: di-unfollow, atau tetap di-follow tapi dibenci secara diam-diam. Opsi kedua yang menurut saya tidak menyenangkan.
You know, ketika mereka menyadari bahwa ada orang yang menginsipirasi lewat timeline mereka, kecil sekali kemungkinan untuk meng-unfollow. They don't unfollow, you don't hate. Twitter would be like what it's actually supposed to be.
Beberapa hari ini, beberapa teman yang saya follow mulai mengisi timeline dengan kemarahan.
Dan kalau saya hanya bicara di sini, toh, sama saja saya menelan ludah sendiri. Sudah saya sampaikan tweet mereka tidak akan mengubah apapun unless mereka memention orang yang mereka benci (jika berkaitan dengan suatu pribadi). Atau setidaknya, mereka memiliki inisiatif untuk melakukan perubahan setelah mengoceh di Twitter (ketika mengeluh tentang suatu keadaan)
Tapi sepertinya, sama singkatnya dalam "memikirkan" luapan mereka, apa yang saya sampaikan juga sekedar berbunyi sebentar lalu dilupakan.
Saya sering mencoba cara yang kurang etis, menyindir. Beberapa akhirnya "sadar diri" lalu minta maaf, yang lainnya tidak tergugah (atau pura-pura tidak merasa)
Omong-omong, permintaan maaf tidak saya butuhkan. Dirimu sendiri yang harusnya diberikan permintaan maaf karena telah dilabeli dengan "kenegatifan" kata-katamu.
Hahaha.
Apakah saya sendiri memang sebijaksana itu dengan mengkritik mereka seperti ini?
Saya pernah marah, saya pernah mengumpat dan mengutuk-ngutuki seorang yang telah sedemikiannya menganggu hidup saya tanpa me-mentionnya.
Ketika saya baca kembali, saya seolah tidak mengenal si empunya tweet tersebut. Saya malu pada diri sendiri.
Jadi saya pikir, setiap orang sekarang (dengan menyadari bagaimana krusialnya peran tweet dalam penilaian terhadap diri sendiri tersebut) harus bisa menjadi kritis dalam hal yang ingin ia sampaikan.
"Words are more treacherous and powerful than we think" kata Sartre.
Saya jadi ingat seorang teman yang pernah mengatakan bahwa saya termasuk "anak DKV yang jarang banget ngeluh soal tugas di Twitter."
mungkin dengan mengetahui fakta adanya dosen yang kebetulan memfollow balik saya, bisa ia jadikan sebagai alasan utama;
tapi jauh sebelum beliau menjadi follower saya pun, saya berusaha menjadi seorang mahasiswa yang.... sepenuhnya mahasiswa.
Maksud saya di sini,
saya hanya ingin mendalami siapa saya sekarang? Mahasiswa. Mahasiswa desain.
Apa pendapat orang jika mengetahui para mahasiswa desain sekarang hanya bisa mengeluh di Twitter? Hanya bisa melakukan kecurangan untuk beberapa tugas? Lebih suka mengumpat-umpat daripada mengerjakan proyek?
Nama "mahasiswa desain" memang bisa tercoreng, seolah menyatakan secara tidak langsung bahwa mahasiswa desain sekarang tidak lagi profesional, mudah mengeluh untuk proyek di tahun-tahun awal, atau bahkan menyindir-nyindir dosen yang dibenci dengan tidak sopan.
Saya terbiasa memposisikan dosen sebagai "klien", mengikuti dan mempelajari bagaimana mereka "menilai" pekerjaan saya, jadi ketika akhirnya tweet dijadikan para mahasiswa desain (ya, teman-teman saya) sebagai sarana mencaci maki hakikat mereka sebagai mahasiswa (dengan tugas-tugasnya) apalagi mahasiswa desain (dengan tanggung jawab untuk mempertahankan integritas dirinya sendiri).. Saya lebih memilih untuk tidak memperparah kemungkinan terlabelinya kita dengan salah, dengan negatif.
Siapa yang bisa tahu siapa yang benar-benar membaca Timeline kita?
Saya suka perkataan Pandji (@Pandji), benar-benar inti dari celoteh saya kali ini,
"Tweet like everyone in this world is following you. Tweet with a conscious mind."
I wonder how nice life would be if just everyone tried to always keep trying to learn, to figure out the real essence of the existence of things. I'm tired of giving excuses. I am human. I can get annoyed too.
If just only.
If. Just.
Saya merasa tenggelam (atau ditenggelamkan?) dalam keterasingan di waktu-waktu tertentu belakangan ini. Mungkin saya yang terlanjur terbiasa merumitkan pikiran saya sendiri tentang pandangan orang lain. Pandangan, yang merujuk pada penilaian; dan pandangan, dalam bagaimana saya akan menilai mata mereka.
Saya akui saya telah melakukan sebuah kesalahan, sebuah kesembronoan (yang sepertinya disebabkan oleh over-excitement, yang memicu ketergesa-gesaan dalam bertindak). Pengakuan telah saya sampaikan dengan hormat, bukan sekedar sebuah formalitas, tapi lebih pada membangun kualitas diri yang lebih baik. Dan permintaan maaf? Saya telah ajukan juga dengan berangkat pada keyakinan bahwa ia adalah kunci dalam memperbaiki pandangan yang terlanjur salah, yang saya yakini telah mereka hadapkan di depan diri saya, menghalangi saya yang 'benar' dilihat oleh mereka (dan kawan).
Dan faktor waktu, saya kira juga akan membantu dalam pengembalian image saya di mata mereka, namun sayangnya, saya selalu salah dalam menilai intergritas mereka. Menyedihkankah saya?
Lalu, sebuah kebetulan (akhirnya) 'memaksakan' saya untuk berhubungan dengan orang-orang tersebut, lagi. Dan kali ini, dengan menyempitnya jarak antara mata mereka dengan mata saya ternyata semakin menjauhkan jarak hati saya dengan hati mereka.
Sudah saya katakan berulang kali bahwa saya pandai membaca mata, saya pandai menerka (dan menghadirkan terkaan yang tepat). Mata mereka, yang saya tangkap, telah dengan gaharnya menjalari penampilan luar saya. Mereka mengintimidasi saya dalam hening mereka.
Saya gelisah. Mereka gencar melabeli saya, dengan salah.
Lemahkah saya untuk tidak membela diri sendiri?
Saya merasa intimidasi yang demikian memang harusnya mendatangkan kegelisahan, dalam ukuran manusia normal. Mereka sudah jelas-jelas mendiskreditkan saya, mencegah saya mengambil bagian dalam mereka (yang pada awalnya begitu ramai bicara tentang kekeluargaan, profesionalitas , dan kebersamaan yang tidak memandang perbedaan).
Saya, dan seperti kawan yang lain, bisa saja tertarik dengan ide-ide pengembangan yang mereka ajukan. Saya bisa saja memiliki keinginan untuk menjadi bagian dalam kreativitas mereka. Namun saya terlanjur diasingkan.
Namun pikiran untuk memohon belas kasih untuk sepenuhnya 'mengampuni' saya atas kesalahan di masa lalu saya, nampak jadi begitu konyol, meski ide itu sendiri datangnya dari kepala ini.
Jika memang keheningan bisa memenangkan kelegaan saya, maka keheningan pula yang harusnya bisa membela saya waktu itu. Dan sepertinya memang lebih baik daripada harus menjadi kelewat vokal, jelas-jelas menantang dan menuding superioritas mereka, yang pasti semakin menghancurkan sisi baik saya yang sudah terlanjur hanya tersisa sedikit di hati mereka.
Saya menyedihkan. Mereka mengerikan.
Mungkin akan lebih baik untuk memunculkan rasa kasihan pada diri sendiri. Namun hal yang merendahkan diri sendiri dan tak mengubah apa-apa seperti itu apa bagusnya dilakukan?
Lagi, teringat perkataan yang (secara kebetulan) tepat untuk saya sampaikan pada diri sendiri.
Wayne Dyer membangunkan saya dari keibaan atas keterasingan yang mereka timpakan:
"How people treat you is their karma; how you react is yours"
Jika mereka memang hanya mau mengenal saya hanya sebatas saya yang jelek, saya yang telah melakukan kesalahan yang mengganggu mereka di masa lalu, akan saya biarkan. Karena saya telah berusaha menghadirkan saya yang baik dengan permintaan maaf dan penyesalan atas hal yang sama sekali tidak saya tujukan untuk menimpakan kejelekan atas mereka.
Saya ingat lagu di masa kecil, sebuah lagu dari film Petualangan Sherina,
"Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati, tapi hanya yang berjiwa ksatria yang mau memaafkan"
Mereka, sebenarnya telah menjadi ksatria bagi saya di awal saya tahu tentang mereka: ide-ide, perkataan, kegiatan, pemikiran, dan pandangan, serta profesionalitas, yang mendatangkan rasa hormat dari saya.... Sebelum mereka menghancurkan image mereka sendiri dengan menghancurkan ketulusan permohonan maaf dan penyesalan saya.
Dan sekarang pun mereka sebenarnya masih menjadi ksatria dengan hal-hal luar biasa yang mereka lakukan. Sayangnya, mereka mengambil keputusan yang salah dengan menjadi ksatria-ksatria yang angkuh.
Saya akui saya telah melakukan sebuah kesalahan, sebuah kesembronoan (yang sepertinya disebabkan oleh over-excitement, yang memicu ketergesa-gesaan dalam bertindak). Pengakuan telah saya sampaikan dengan hormat, bukan sekedar sebuah formalitas, tapi lebih pada membangun kualitas diri yang lebih baik. Dan permintaan maaf? Saya telah ajukan juga dengan berangkat pada keyakinan bahwa ia adalah kunci dalam memperbaiki pandangan yang terlanjur salah, yang saya yakini telah mereka hadapkan di depan diri saya, menghalangi saya yang 'benar' dilihat oleh mereka (dan kawan).
Dan faktor waktu, saya kira juga akan membantu dalam pengembalian image saya di mata mereka, namun sayangnya, saya selalu salah dalam menilai intergritas mereka. Menyedihkankah saya?
Lalu, sebuah kebetulan (akhirnya) 'memaksakan' saya untuk berhubungan dengan orang-orang tersebut, lagi. Dan kali ini, dengan menyempitnya jarak antara mata mereka dengan mata saya ternyata semakin menjauhkan jarak hati saya dengan hati mereka.
Sudah saya katakan berulang kali bahwa saya pandai membaca mata, saya pandai menerka (dan menghadirkan terkaan yang tepat). Mata mereka, yang saya tangkap, telah dengan gaharnya menjalari penampilan luar saya. Mereka mengintimidasi saya dalam hening mereka.
Saya gelisah. Mereka gencar melabeli saya, dengan salah.
Lemahkah saya untuk tidak membela diri sendiri?
Saya merasa intimidasi yang demikian memang harusnya mendatangkan kegelisahan, dalam ukuran manusia normal. Mereka sudah jelas-jelas mendiskreditkan saya, mencegah saya mengambil bagian dalam mereka (yang pada awalnya begitu ramai bicara tentang kekeluargaan, profesionalitas , dan kebersamaan yang tidak memandang perbedaan).
Saya, dan seperti kawan yang lain, bisa saja tertarik dengan ide-ide pengembangan yang mereka ajukan. Saya bisa saja memiliki keinginan untuk menjadi bagian dalam kreativitas mereka. Namun saya terlanjur diasingkan.
Namun pikiran untuk memohon belas kasih untuk sepenuhnya 'mengampuni' saya atas kesalahan di masa lalu saya, nampak jadi begitu konyol, meski ide itu sendiri datangnya dari kepala ini.
Jika memang keheningan bisa memenangkan kelegaan saya, maka keheningan pula yang harusnya bisa membela saya waktu itu. Dan sepertinya memang lebih baik daripada harus menjadi kelewat vokal, jelas-jelas menantang dan menuding superioritas mereka, yang pasti semakin menghancurkan sisi baik saya yang sudah terlanjur hanya tersisa sedikit di hati mereka.
Saya menyedihkan. Mereka mengerikan.
Mungkin akan lebih baik untuk memunculkan rasa kasihan pada diri sendiri. Namun hal yang merendahkan diri sendiri dan tak mengubah apa-apa seperti itu apa bagusnya dilakukan?
Lagi, teringat perkataan yang (secara kebetulan) tepat untuk saya sampaikan pada diri sendiri.
Wayne Dyer membangunkan saya dari keibaan atas keterasingan yang mereka timpakan:
"How people treat you is their karma; how you react is yours"
Jika mereka memang hanya mau mengenal saya hanya sebatas saya yang jelek, saya yang telah melakukan kesalahan yang mengganggu mereka di masa lalu, akan saya biarkan. Karena saya telah berusaha menghadirkan saya yang baik dengan permintaan maaf dan penyesalan atas hal yang sama sekali tidak saya tujukan untuk menimpakan kejelekan atas mereka.
Saya ingat lagu di masa kecil, sebuah lagu dari film Petualangan Sherina,
"Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati, tapi hanya yang berjiwa ksatria yang mau memaafkan"
Mereka, sebenarnya telah menjadi ksatria bagi saya di awal saya tahu tentang mereka: ide-ide, perkataan, kegiatan, pemikiran, dan pandangan, serta profesionalitas, yang mendatangkan rasa hormat dari saya.... Sebelum mereka menghancurkan image mereka sendiri dengan menghancurkan ketulusan permohonan maaf dan penyesalan saya.
Dan sekarang pun mereka sebenarnya masih menjadi ksatria dengan hal-hal luar biasa yang mereka lakukan. Sayangnya, mereka mengambil keputusan yang salah dengan menjadi ksatria-ksatria yang angkuh.
Betapa menariknya kebetulan-kebetulan kosmik yang dalam kekompleksannya terus membawakan kembali pertanyaan-pertanyaan yang saya sudahi dengan beberapa konklusi raba-raba.
Pagi ini saya membaca sebuah kalimat dari Gie yang menggelitik, sebuah kutipan dari Catatan Seorang Demonstran, yang dikutip dalam buku Biografi Seorang Demonstran oleh Moh. Rifai, yang kupikir bisa dikontemplasikan bersama dengan pertanyaan-pertanyaan saya di post yang sebelumnya:
Pagi ini saya membaca sebuah kalimat dari Gie yang menggelitik, sebuah kutipan dari Catatan Seorang Demonstran, yang dikutip dalam buku Biografi Seorang Demonstran oleh Moh. Rifai, yang kupikir bisa dikontemplasikan bersama dengan pertanyaan-pertanyaan saya di post yang sebelumnya:
Having been poured by questions these days :
why do people finally decide to get married?
when somebody can just live alone ,what is married supposed to do with their lives?
to not be alone in entire life? to be taken care about? what an ego!
how do people define love, anyway?
why do people finally decide to get married?
when somebody can just live alone ,what is married supposed to do with their lives?
to not be alone in entire life? to be taken care about? what an ego!
how do people define love, anyway?
Hello. Yes, hello. (:
It's still me, Ellena, with these all random and complicated thoughts.
It's been my 3rd (or 4th?) times changing the blog's layouts, title, and even its domain.. and just like what I can see from my previous attempts changing this blog's link, my visitor counter never hits any satisfying numbers. It's fine, anyway. I've been saying that I never intend to write and serve words to gain readers' attentions, i simply play words with my own self, I get used to have conversations with my mind.
And why must it be 'Possibellety' ?
It's still me, Ellena, with these all random and complicated thoughts.
It's been my 3rd (or 4th?) times changing the blog's layouts, title, and even its domain.. and just like what I can see from my previous attempts changing this blog's link, my visitor counter never hits any satisfying numbers. It's fine, anyway. I've been saying that I never intend to write and serve words to gain readers' attentions, i simply play words with my own self, I get used to have conversations with my mind.
And why must it be 'Possibellety' ?
