­

The Energy

5/03/2011 06:08:00 PM


Enggak ada yang perlu digirangi atau disoraki dari hari terakhir minggu ujian sebagaimana yang dilakukan kawan-kawan saya di jurusan lain. Mungkin karena saya merasa dengan hari-hari bolong di UTS akan jauh meringankan proses pengerjaan karya & persiapan belajar untuk subject yang teoritis dibanding dengan hari-hari kuliah yang full sampai menyita waktu tidur demi menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa. (Saya pikir-pikir, institusi ini lucu juga: memberi ruang bernapas dengan pelarangan ketat merokok di area kampus, tapi tidak memberi ruang bernapas di hari-hari perkuliahan. Mungkin memang sengaja kita dipersiapkan untuk menjadi mesin-mesin industri, sebagaimana kita telah terjebak dalam pabrik manusia sekarang. Ah, lupakanlah.)


Ujian hari ini adalah, bisa dibilang, mata kuliah kesukaan saya; tempat bermain-main visual sekaligus meluapkan kecintaan saya pada kata, tipografi III. Dan gambar di atas adalah hasil karya UTS Typographical Quote yang dikumpulkan pagi tadi. Sehubungan dengan nomor absen saya, saya dapat quote tersebut di atas, sebuah quotation dari Von Goethe. Menurut pesan si dosen, pemaknaan dari si quote juga harus diperhatikan; dan maka berakhirlah karya saya dengan hasil seperti di atas.


“Janganlah bermimpi yang kecil, karena tidak akan menggerakkan hati manusia,” kata Goethe. Dan dengan hari-hari kesibukan saya yang dihujani kegalauan-kegalauan belakangan ini, somehow I feel so grateful karena “diharuskan” meresapi quotation di atas.

Sudah lama saya bermimpi besar, dan saya yakini semua orang sudah memiliki mimpi yang besar, tidak terkecuali orang-orang yang sudah sampai di atas (karena manusia tidak pernah menemukan dimana garis finish kepuasan). Semua orang punya mimpi, dan semuanya adalah mimpi yang besar. Mengapa demikian? Karena ketika hanya visi sederhana yang tidak jauh berbeda dengan kondisi kita sekarang, itu bukan mimpi namanya; tapi semata sebuah penggambaran konsep saja. Misalnya, saya seorang mahasiswa bermimpi ingin mendapat nilai di atas D untuk satu tugas sebuah mata kuliah. Udah? Gitu doang? Itu namanya kewajiban, bukan “mimpi”. Disebut mimpi jika pengandaiannya diubah menjadi: saya seorang mahasiswa, dan bermimpi bahwa selepas kelulusan saya, saya bisa menggunakan ilmu saya untuk mengurangi kemiskinan di daerah kecil di Indonesia dengan memberikan pelatihan teknik cetak untuk kemudian dikembangkan sehingga mereka mampu menghidupi keluarga mereka. Muluk? Iya.

Tapi “Dream no small dreams” yang disebutkan oleh Goethe saya yakini memiliki arti lebih dalam dan besar dibanding itu. Saya yakini, “dream no small dreams” yang dimaksud Goethe bukan hanya tentang mimpi yang semata besar (muluk, utopis, atau apapun thesaurusnya), melainkan satu cita-cita sederhana yang saking sederhananya sampai tidak terpikirkan oleh orang lain, suatu mimpi yang kelihatannya tidak mungkin, suatu mimpi yang dalam kekompleksannya sendiri (maupun dalam segi effort pencapaiannya), menuntut kita untuk ikut serta memimpikan detail-detail dalam mimpi tersebut. Mimpi yang demikianlah yang menggelitik manusia untuk menggerakkan hatinya sendiri.

Bagaimana kalau pengandaiannya diganti dengan diri saya sendiri?

Beberapa waktu yang lalu saya dikasih lihat karya-karya Marian Bantjes di kelas. Beautifully extraordinary. Yang ada di pikiran saya “Gila, ini orang niat banget bikin karya tipografinya.” sambil membayangkan diri saya mampu membuat sesuatu seperti karya-karyanya yang memiliki folder tersendiri di laptop saya. Karena waktu pengerjaan yang sempit (repot ini itu, selalu), saya sampai mikir, “Ah, saya bikin ajalah yang modernist, seperti biasa. Tetap menyamani diri di legibility.” Tapi entah kenapa, semakin dibrowse karya-karyanya di laptop, semakin saya pengin mencoba bikin sesuatu yang ke-bantjes-bantjes-an. Dan UTS saya yang terpajang di bagian awal blog ini, adalah bentuk nyata a dream that has power to move the heart of mine. Memang enggak se-bantjes yang saya bayangin. Hasilnya juga sederhana (atau malah jelek?), tapi saya puas.
Kepuasan saya bukan karena yakin dapat nilai bagus, karena saya sendiri pun sudah “tidak peduli” akan dapat nilai berapa. Yang penting saya puas karena mulai berhasil mendoktrin diri saya sendiri untuk tidak melulu mengejar score dengan stay di zona nyaman saya (modernism yang rasional), tapi mulai mengejar value dengan eksperimen. Yah, namanya juga eksperimen, kalau gagal sekali lalu berhenti, nanti enggak valid dong ya konklusinya? ;p

Terima kasih untuk Goethe for such inspiring and motivating quote! Yes, I will dream no small dreams, for I have figured out, they have no power to move the heart of men.
Ini berlaku juga untuk visi-visi saya ke depan.



NB: dibaca sekilas dari sudut pandang feminisme yang sarkas (atau sexist, malah), poster saya kok kesannya seperti poster motivasional pergerakan gerilya feminisme yah? Dengan sulur-sulurnya yang ke-nouveau-nouveau-an, ditambah kata “for they have no power to move the hearts of men”, poster saya bisa saja disalahartikan sebagai ajakan bagi para wanita untuk bermimpi besar karena mimpi-mimpi kecilnya para pria tidak bisa menggerakkan hati mereka. Hihihi:p Eh tapi, jujur, feminisme terselubung ini tidak disengaja loh. Beneran deh! :D

You Might Also Like

0 comments

followers

Subscribe